Kamis, 19 Juli 2012

Al-Mawardi, Pemikir Termasyhur di Zaman Kekhalifahan (1)

0 komentar
Alboacen. Begitu peradaban Barat biasa menyebut pemikir dan pakar ilmu politik termasyhur di era Kekhalifahan Abbasiyah ini. Ilmuwan legendaris di abad ke-10 M itu diakui dunia sebagai salah seorang peletak dasar keilmuan politik Islam.

Gagasan dan pemikirannya tentang ilmu politik yang dituangkan dalam bukunya yang amat fenomenal berjudul Al-Ahkam al- Sultania wa al-Wilayat ad-Diniyya, hingga kini masih tetap diperbincangkan.

Selain menguasai ilmu politik, intelektual Muslim bernama Al-Mawardi ini juga dikenal sebagai ahli hukum, pakar ilmu hadis, serta sosiolog Muslim terkemuka. Ia sempat mengabdikan dirinya menjadi ahli hukum di sekolah fikih. Dalam bidang ini, sang pemikir Muslim itu melahirkan dasar-dasar yurisprudensi yang reputasinya begitu monumental bertajuk, Al-Hawi, yang terdiri atas 8.000 halaman.

Kemampuannya dalam bidang hukum yang begitu mumpuni membuat Al-Mawardi berkali-kali diangkat sebagai hakim (qadhi) di berbagai provinsi. Kelihaiannya dalam melakukan lobi-lobi politik juga membuat khalifah mendaulatnya sebagai duta keliling pemerintahan Abbasiyah.

Ketika situasi politik kenegaraan bergolak, Al-Mawardi pun tampil sebagai tokoh pemersatu. Sebagai seorang pemikir yang independen, ia terus menyuarakan mediasi antara dua kekuatan yang bertikai pada zamannya, yakni pemerintahan Abbasiyah dan militer Syiah Buyid.

Ia tak memihak pada satu kubu, melainkan tampil sebagai tokoh yang netral. Tak salah, jika seorang orientalis menyebut ulama penganut mazhab Syafi’i bernama lengkap Abu Al-Hasan Ali bin Habib Al-Mawardi ini sebagai Khatib Baghdad.

Sejatinya, Al-Mawardi adalah putra dari seorang saudagar minyak mawar. Ia terlahir di pusat kota peradaban Islam klasik, Basrah, pada 386 H/975 M. Al-Mawardi kecil menempuh pendidikan dasar di tanah kelahirannya. Ilmu hukum telah membetot perhatiannya sejak masih remaja. Ia lalu berguru kepada seorang pakar hukum mazhab Syafi’i terkemuka bernama, Abul Qasim Abdul Wahid As-Saimari.

Setelah menguasai ilmu hukum Islam (fikih), Al-Mawardi akhirnya memutuskan hijrah ke Baghdad untuk menimba ilmu lainnya.

Ia memutuskan untuk berguru ilmu hukum, tata bahasa, dan sastra pada Syekh Abdul Hamid Al-Isfraini dan Abdullah Al-Bafi. Berkat otaknya yang encer, dalam waktu singkat ia pun telah menguasai beragam ilmu, seperti hadits, fikih, politik, filsafat, etika, dan sastra.

Kemampuannya dalam mengusai beragam ilmu itu mengantarkannya pada sebuah perjalanan karier yang cemerlang. Menjadi hakim merupakan jabatan pertama yang ditawarkan khalifah kepadanya.

Keberhasilannya sebagai hakim di berbagai daerah kekuasaan Abbasiyah mengantarkannya pada jabatan yang lebih tinggi. Hingga akhirnya, Al-Mawardi mencapai puncak karier dalam bidang kehakiman saat diangkat sebagai hakim ketua di Baghdad.

Prestasinya yang begitu cemerlang membuat Khalifah Abbasiyah, Al-Qaim bin Amrullah, memercayainya sebagai duta besar keliling kekhalifahan. Ia bertugas dari satu negara ke negera lainnya sebagai pimpinan misi khusus Pemerintah Abbasiyah. Ia memainkan peranan yang penting untuk tetap menjaga hubungan diplomatik antara Kekhalifahan Abbasiyah yang mulai meredup dengan Dinasti Buwaih dan Seljuk yang mulai menguat.

Keandalannya dalam berdiplomasi membuat pemerintahan Islam lain yang sedang menguat menaruh hormat pada sang duta besar. Tak heran, jika berkunjung ke sebuah negara, Al-Mawardi selalu mendapatkan hadiah dan cendera mata dari para sultan pada zaman itu. Ia pun menjadi saksi ketika Baghdad pusat pemerintahan Abbasiyah diambil alih Dinasti Buwaih.

Kontribusinya bagi peradaban Islam dalam bidang ilmu politik dan sosiologi sungguh amat tak ternilai. Al-Mawardi telah melahirkan sebuah buku terbesar dalam khazanah peradaaban Islam, yakni Kitab Al-Ahkam As-Sultaniah. Selain itu, ia juga menulis buku termasyhur lainnya berjudul Qanun al-Wazarah, serta Kitab Nasihat al-Mulk. Buku-buku yang ditulisnya itu membahas tentang dasar-dasar ilmu politik.

Secara detail dan lugas, dalam buku politiknya Al-Mawardi mengupas tentang fungsi dan tugas khalifah, perdana menteri, menteri-menteri, hubungan antara berbagai elemen publik dengan pemerintah, serta langkah-langkah untuk menguatkan pemerintahan dan memastikan kemenangan dalam peperangan.

Dua bukunya yang berjudul, Al-Ahkam As-Sultaniah serta Qanun Al-Wazarah, telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Itulah yang membuat Al-Mawardi termasyhur di seantero dunia hingga abad ini. Ia juga diyakini sebagai seorang penulis Doctrine of Necessity dalam ilmu politik. Al-Mawardi telah meletakkan prinsip-prinsip yang jelas tentang pemilihan khalifah dan kualitas pemilihnya.



Read :  Al-Mawardi, Pemikir Termasyhur di Zaman Kekhalifahan (2)

Source: republika.co.id
newer post

Jam Gajah Sang Jenius Muslim

0 komentar

Waktu merupakan hal berharga dalam kehidupan, terlebih bagi manusia modern penghuni akhir zaman. Bak komoditi yang layak diperdagangkan, pemanfaatan waktu mesti terukur dengan sangat presisi.

Begitu pula sebenarnya dalam pandangan Islam. Waktu yang notabene titipan Allah SWT, setiap detiknya sebaiknya dioptimalkan untuk melakukan amalan-amalan sholeh dalam rangka taat pada-Nya. 

Allah SWT berfirman dalam Surah Al ‘Asr: “Demi masa, sungguh manusia berada dalam kerugian, melainkan orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, serta saling menasehati dalam kebenaran dan dalam kesabaran. 

Begitu pentingnya waktu, sehingga dibutuhkan perangkat yang dapat membantu manusia untuk mengetahui dan mencatatnya. Maka terciptalah alat bernama jam. 

Detak jam memberi arti khusus bagi denyut kehidupan umat Islam. Jam dalam berbagai bentuk dan ukurannya, mulai dari yang terkecil (seukuran kuku) sampai yang terbesar menopang langit kota Mekah, telah memudahkan kaum muslimin dalam urusan ibadah dan muamalahnya. Dengannya, saat berpelesir di jantung Kota Paris ataupun sedang menikmati hiking di kedalaman Black Forest Jerman, rotasi mesin jam seakan menggamit hati dan mengingatkan diri setiap muslim untuk tetap larut dalam gerak tawaf universal. Yakni, putaran alam semesta menuju ketundukan pada Allah Azza Wa Jalla.

Jam gajah Al-Jazari
Teknologi jam memang bukanlah suatu hal yang baru. Meski dalam bentuk yang sangat sederhana, perangkat penunjuk waktu ini telah ditemukan sejak tahun 3500 SM. Namun, ada hal menarik dari perkembangannya.

Delapan abad yang lalu, seorang ilmuwan muslim berhasil menciptakan jam dengan disain yang tidak biasa dan terbilang sangat rumit pada masanya. Dialah Al-Jazari, seorang jenius muslim yang taat dari kota Diyarbakir, di wilayah Turki bagian Tenggara. Melalui karyanya, Al-Jazari memperkenalkan suatu inovasi tercanggih dalam hal mekanikal jam. Bahkan, oleh ilmuwan modern, karya ini juga dianggap menjadi peletak dasar-dasar robotik.

Selain prinsip kerja mesinnya yang menakjubkan, jam ini juga memiliki tampilan luar yang tak kalah istimewanya. Al-Jazari sengaja merancang alat yang dinamakan jam gajah (elephant clock) dalam rangka mengokohkan citra Islam sebagai agama yang universal. Hal tersebut, terutama dikaitkan dengan fakta meluasnya penerimaan dunia atas ajaran yang penuh kemuliaan ini, mulai dari Spanyol sampai Asia Tengah. 

Melalui jam gajahnya, Al-Jazari merepresentasikan keuniversalan Islam tersebut dengan mengkombinasikan prinsip tabung Archimides dari Yunani, berpadu dengan figur gajah khas India dan Afrika, burung Phoenix dari legenda Mesir, angka-angka Arab, karpet Persia dan naga dari Cina. Wajar jika raja yang berkuasa pada saat itu, putra dari Sultan Saladin, mengganjar dengan penghargaan tertinggi atas hal tersebut.
   

Prinsip kerja jam gajah
 
Mesin ini diciptakan dengan kecanggihan yang jauh melampaui karya-karya penemu lain di zamannya. Selain tampilan luarnya yang sangat indah dan menarik, bagian dalam dari mesin ini, yang merupakan pusat kecanggihannya, juga mengundang decak kagum. 

Bagian perut gajah tersebut, ternyata merupakan sebuah tangki berisi air dengan ukuran volume tertentu. Terdapat sebuah mangkuk air berperforasi yang bekerja menggunakan prinsip Archimides, sehingga mangkuk tersebut berisolasi di sekitar tepinya dan tidak tenggelam secara vertikal. 

Mangkuk yang mengambang pada tangki air tersebut memiliki sebuah lubang kecil yang secara bertahap terisi dengan air. Lambat laun, mangkuk ini akan secara bersamaan tenggelam dan miring. Dalam proses tenggelam ini, mangkuk akan menarik 3 buah tali yang terhubung dengan mekanisme yang akan mengontrol 30 bola yang akan dijatuhkan satu per satu dari menara atas gajah, tepat setiap setengah jam sekali. Selanjutnya ialah proses yang menakjubkan!

Bola yang dijatuhkan tersebut, akan menyebabkan putaran burung Phoenix yang berkicau. Selanjutnya, bola tersebut akan menggerakkan sebuah patung, yang menyerupai Sultan Saladin, ke kiri dan ke kanan. Gerakan tersebut menentukan apakah bola akan jatuh melalui mulut dari salah satu elang yang berada di sampingnya. 

Selanjutnya, mulut salah satu naga akan menangkap bola tersebut. Berat yang ditimbulkan bola akan menyebabkan naga membungkuk sembari meletakkan bola tersebut pada sebuah vas dibelakang Mahout, sang penunggang gajah. Menandai rangkaian proses itu, Mahout akan menggerak-gerakkan tangannya dan bunyi simbal akan terdengar. Sungguh sebuah karya yang jenius!

Dua kali sehari, saat matahari terbit dan terbenam,  jam gajah  akan disetel ulang untuk mengembalikan 30 bola yang telah jatuh ke dalam vas. Level air pada tangki di dalam perut gajah juga disesuaikan, mengingat laju air mengalami perubahan disebabkan rentang satu “jam” yang bervariasi setiap harinya. 

Inspirasi bagi Dunia
Tak lama setelah penemuan ini, konsep robotik yang pertama kali dikenalkannya itu segera diadopsi dan berkembang  di wilayah Eropa. Begitu pula karya-karya jeniusnya yang lain dalam bidang permesinan, yang terangkum dalam bukunya "The book of Knowledge of Ingenious Mechanical Devices".  

Buah kedalaman pikir, kemantapan dzikir dan kesungguhan ikthiar dari Al-Jazari telah menerangi benua Eropa yang saat itu masih terbelenggu zaman kegelapan. Sayang, karya-karya sang jenius muslim ini sebagian besar sudah tidak dapat dijumpai dalam bentuk aslinya. Namun, beberapa replikanya masih dapat kita temui di beberapa tempat. Salah satunya, reproduksi jam gajah yang dapat kita jumpai di Mall Ibnu Battuta, Dubai, serta di sebuah museum jam ternama di negeri Swiss. 
newer post

Ilmuwan Muslim: Al-Baytar, Sang Penemu Hindiba

0 komentar
Pada era awal penemuan Hindiba, nama Ibnu Al-Baytar sangat kondang. Bernama lengkap Abu Muhammad Abdallah Ibnu Ahmad Ibnu Al-Baytar Dhiya Al-Din Al-Malaqi, dia dikenal sebagai ilmuwan Muslim legendaris di bidang botani (tetumbuhan) dan farmasi (obat-obatan) pada era kejayaan Islam. Dia lahir pada akhir abad ke-12 M di Kota Malaga (Spanyol).

Kegemarannya mempelajari tetumbuhan terlihat sedari kecil. Beranjak dewasa, dia pun belajar banyak mengenai ilmu botani kepada Abu Al-Abbas Al-Nabati yang pada masa itu merupakan ahli botani terkemuka.

Dari sinilah, Al-Baytar lantas banyak berkelana untuk mengumpulkan beragam jenis tumbuhan. Tahun 1219, dia melakukan perjalanan ekspedisi untuk mencari aneka jenis tumbuhan. Bersama beberapa pembantunya, Al-Baytar berkelana di sepanjang pantai utara Afrika dan Asia Timur Jauh.

Tempat-tempat penting yang pernah disinggahi antara lain, Bugia, Qastantunia (Konstantinopel), Tunisia, Tripoli, Barqa, dan Adalia. Setelah 1224, Al-Baytar bekerja untuk Al-Kamil, Gubernur Mesir, dan dipercaya menjadi kepala ahli tanaman obat.

Pada 1227, Al-Kamil mengekspansi kekuasaannya hingga Damaskus. Karena kesetiaannya, Al-Baytar selalu menyertainya di setiap perjalanan. Momen ini dimanfaatkan untuk banyak mengumpulkan tumbuhan. Ketika tinggal beberapa tahun di Suriah, Al-Baytar berkesempatan mengadakan penelitian tumbuhan di area yang sangat luas, termasuk Saudi Arabia dan Palestina. Sumbangsih utama Al-Baytar adalah kitab Al-Jami fi Al-Adwiya Al-Mufrada.

Kitab tersebut paling terkemuka dalam ilmu tumbuhan dan ilmu pengobatan Arab. Kitab ini menjadi rujukan para ahli tumbuhan dan obat-obatan hingga abad ke-16. Ensiklopedia tumbuhan yang ada dalam kitab ini mencakup 1.400 jenis. Isinya didominasi tumbuhan obat dan sayur-mayur.

Kelengkapan kitab ini membuatnya dirujuk oleh 150 penulis, terutama penulis dari Jazirah Arab. Sekitar 20 ilmuwan menerjemahkannya ke bahasa Latin. Publikasinya dimulai tahun 1758. Karya fenomenal kedua Al-Baytar adalah kitab Al-Mughni fi Al-Adwiya Al-Mufradayakni, sebuah ensiklopedia obat-obatan.

Di dalamnya, terdapat 20 bab tentang beragam khasiat tanaman yang bermanfaat bagi tubuh manusia. Selain bahasa Arab, Baytar pun kerap memberikan nama Latin dan Yunani kepada tumbuhan, serta suka berbagi ilmu.

Kontribusi Al-Baytar tersebut merupakan hasil observasi dan penelitian selama bertahun-tahun. Karyanya kini amat memengaruhi perkembangan ilmu botani dan kedokteran, baik di Eropa maupun Asia.

Selain ahli Botani, Al-Baytar juga dikenal sebagai ahli obat-obatan terhebat yang pernah dimiliki Spanyol pada abad pertengahan.

Untuk menambah koleksi tanaman obatnya, Al-Baytar menjelajahi daerah pesisir Mediteranian, mulai dari Spanyol hingga Suriah. Dia berhasil mengumpulkan dan memberikan catatan terhadap lebih dari 1.400 jenis tanaman obat.

Ensiklopedi tumbuhan Al-Baytar

Al-Baytar juga melakukan perbandingan tanaman obat yang diperolehnya dengan 150 jenis tanaman langka yang lebih dulu ditemukan oleh ahli Botani Arab lainnya. Pengoleksian jenis tanaman obat inilah yang mengantarkan Al-Baytar mendapat sebutan ahli botani yang paling terkemuka di dunia Arab.

"Catatan-catatan Al-Baytar adalah catatan terpenting dalam dunia tumbuhan dari seluruh periode kejayaan ahli botani, mulai dari masa Dioscorides sampai abad ke-16," ungkap Sarton. Catatan Al-Baytar, kata ahli sejarah ini, seperti kamus atau ensiklopedia lengkap tentang tumbuh-tumbuhan.

Setelah menyelesaikan karyanya, Al-Baytar pun mengabdikan diri pada Raja Ayyubib Al-Malik Al-Lamil, sebagai kepala tabib (menteri kesehatan) di Kairo. Dengan jabatan yang diembannya, Al-Baytar tetap melakukan ekspedisi tanaman obat ke seluruh wilayah Suriah dan Asia Jauh sampai akhirnya meninggal di Damaskus.

Menurut Sarton, Al Baytar adalah salah satu penyumbang utama perkembangan ilmu kedokteran dunia. "Karyanya berjudul Al-Mughani fi Al-Adwiyah Al-Mufrada dijadikan rujukan utama dalam dunia kedokteran modern hingga beberapa abad sesudahnya," ujarnya.

Di Spanyol juga pernah hidup para ahli botani yang memberikan kontribusi sangat besar terhadap perkembangan ilmu tanaman. Di antara mereka adalah Abdul Abbas Al-Nabati yang menjelajahi pesisir Afrika dari Spanyol ke Arab untuk mencari tanaman obat dan tumbuhan. Al-Nabati juga menemukan sejumlah tanaman langka di tepi Laut Merah.

Ahli Botani lainnya yaitu Ibnu Sauri yang membuat sketsa tumbuhan yang dia temui selama perjalanannya di Suriah. Dalam melakukan pekerjaannya, Ibnu Sauri ditemani seorang seniman.

Ada juga Ibnu Wahshiya yang menulis buku Al-Filahah Al-Nabatiyah yang berisi tentang informasi penting seputar hewan dan tumbuh-tumbuhan. Ahli botani Muslim lainnya, yaitu Zakariya Al-Kaiwini (wafat 1283 M), Al-Dinawari (penulis buku Book of Plants) , dan Al-Bakri yang menulis sebuah buku yang menggambarkan secara detail tentang tumbuh-tumbuhan di Andalusia.

Sumbangsih pemikiran dan dedikasi Muslim di Spanyol pada bidang tumbuh-tumbuhan, kata Sarton, membuat ilmu botani, pertanian dan perkebunan, berkembang sangat pesat. "Dunia perkebunan dan pertanian mengalami kemajuan. Para ahli botani Muslim membuktikan bahwa sumbangsih peradaban Islam sangat berarti bagi dunia," pujinya.
newer post

Al-Idrisi, Kartografer Muslim Kepercayaan Raja (2)

0 komentar
Selain membuat peta, Al-Idrisi mempersiapkan untuk Roger II sebuah buku petunjuk peta yang berisi informasi yang dikumpulkan dari bukunya terdahulu yang berjudul Nuzhat A-Musytaq fi Ikhtiraq A-Afaq (Hiburan untuk Manusia yang Rindu Mengembara ke Tempat-Tempat Jauh) yang berisi peta-peta yang sangat rinci mengenai Eropa, frika dan Asia.

Buku tersebut dinamakan Al-Kitab Al-Rujari (Buku Roger) yang berisi 71 peta bagian, sebuah peta dunia, peta iklim, dan penjelasan beberapa kota.

Keunggulan peta Al-Idrisi

Keunggulan peta Al-Idrisi dibandingkan peta dunia Eropa abad pertengahan adalah informatif. Peta Al Idrisi menggambarkan peta dari tujuh benua dan tujuh samudera yang dilengkapi pula dengan informasi seperti rute-rute perdagangan, nama-nama danau, sungai, kota-kota besar, lautan, daratan, dan gunung disertai dengan data-data jarak, dan tinggi suatu tempat jika diperlukan.

Selain itu, Buku Roger secara sistematis menggambarkan dunia dari barat ke timur dan dari selatan ke utara yang tergambar dalam peta Al-Idrisi. Setiap bagian buku dibuka dengan gambaran umum wilayah, daftar kota-kota utama, laporan lengkap dari setiap kota, dan jarak antar kota.

Seperti dari Fez menuju Ceuta, Selat Gibraltar di utara membutuhkan waktu tujuh hari, atau dari Fez menuju Tlemcen sembilan hari, dan seterusnya.

Al-Idrisi juga menggambarkan kota yang hilang dari Ghana (dekat Timbuktu, di Niger) sebagai kota yang paling besar, paling padat dihuni, dan pusat perdagangan terbesar negara-negara negro.

Al-Idrisi memberikan penjelasan rinci tentang Spanyol. Dia memuji Toledo, dengan situs yang dipertahankan, dinding halus dan dibentengi benteng. "Taman-taman Toledo yang dicampur dengan kanal mengairi kebun buah dan menghasilkan buah dengan kuantitas luar biasa. Keindahan yang tak terkatakan," tulis Al-Idrisi.

Al-Idrisi juga menyebut kota beserta keterangannya. Seperti Kota Hastings disebutkan sebagai kota yang cukup besar, padat penduduknya, dengan banyak bangunan, pasar, banyak industri dan perdagangan.

Dover di sebelah timur adalah sebuah kota yang tidak jauh dari sungai London; London disebut sebagai  kota pedalaman; Chartres sebuah pasar pertanian; Meaux merupakan pusat negeri Perancis; dan Roma yang disebut sebagai kota yang memiliki keindahan oriental dengan 1.200 gereja, dan jalan yang diaspal dengan marmer biru dan putih.

Pasca meninggalnya Roger II, Al-Idrisi melanjutkan untuk menulis sebuah karya geografi untuk William I, putra Roger II. Namun, pada  tahun 1160, terjadi pemberontakan di Sisilia melawan William I.

Mereka menjarah istana, membakar catatan pemerintah, buku, dan dokumen termasuk edisi latin baru dari buku Roger II yang rencananya akan Al-Idrisi sajikan kepada William. 

Karena pemberontakan tersebut Al-Idrisi melarikan diri ke Afrika Utara. Di sana ia menetap selama enam tahun dan kemudian meninggal. Teks Arab dari Buku Roger diterbitkan di Roma oleh pers Medici pada tahun 1592 dan tidak lagi tersedia untuk Eropa dalam bahasa Latin sampai abad ke-17.

Kartografer Muslim yang menginspirasiAl-Idrisi bernama lengkap Abu Abdullah Muhammad ibnu Muhammad ibnu Abdullah ibnu Idris Asy-Syarif. Di kalangan umat Islam ia dikenal dengan Asy-Syarif Al-Idrisi Al-Qurthubi, sementara Barat mengenalnya dengan nama Dreses.

Al-Idrisi dilahirkan di Kota Cetua, Afrika Utara, pada tahun 1100 M. Ia tumbuh dan besar di Cetua dan menempuh pendidikan di Cordova, Spanyol, dan meninggal dunia tahun 1166 M.

Al-Idrisi juga merupakan ahli farmakologi dan seorang dokter. Namun, minatnya yang besar pada matematika dan astronomi menjadikannya sangat ahli di bidang navigasi. Hal ini membawanya menjadi seorang yang sangat pakar di bidang geografi dan pembuatan peta (kartografi).

Sejarawan SP Scott memuji karya geografi Al-Idrisi sebagai sebuah era baru dalam sejarah pengetahuan. Informasi historis karya-karya Al-Idrisi sangat menarik dan berharga, meskipun deskripsi karyanya terhadap banyak tempat di bumi masih otoritatif.

Selama tiga abad, para pakar geografi menyalin peta Al-Idrisi tanpa perubahan. Posisi relatif danau yang membentuk sungai Nil, seperti yang digambarkan dalam karyanya, tidak banyak berbeda dari yang dibuat Baker dan Stanley lebih dari 700 tahun kemudian.

Karya teks geografi Al-Idrisi, Nuzhatul Mushtaq, juga sering dikutip oleh para pendukung teori hubungan Andalusia-Amerika pra-Columbus. Bukunya yang lain, Rawdh An-Nas wa Nuzhat An-Nafs (Kesenangan Manusia dan Kegembiraan Jiwa) berisi rincian-rincian yang sangat akurat mengenai Nigeria, Timbuktu, Sudan, dan hulu sungai Nil.

Selain itu, Al-Idrisi juga menulis beberapa buku yang membahas tanaman obat dan zoology. Bukunya yang paling terkenal di bidang ini adalah Kitab Al-Jami’ li Shifat Asytat An-Nabatat.

Al-Idrisi menginspirasi pakar geografi Islam lainnya seperti Ibnu Batutah, Ibnu Khaldun, Piri Reis dan Barbary Corsairs. Petanya juga menginspirasi Christopher Columbus dan Vasco Da Gama.



Read : Al-Idrisi, Kartografer Muslim Kepercayaan Raja (1)

Source: repulika.co.id
newer post

Al-Idrisi, Kartografer Muslim Kepercayaan Raja (1)

0 komentar
Sisilia adalah tempat pertemuan dua peradaban. Dikuasai oleh orang-orang Arab tahun 831, pulau ini dalam kendali Muslim sampai akhir abad 11.

Selama rentang waktu tiga abad, orang-orang Arab Muslim membangun bendungan, sistem irigasi, waduk dan menara air, memperkenalkan tanaman baru seperti jeruk dan lemon, kapas, kurma, dan beras.


                    (Peta dunia karya Al-Idrisi)


Pada awal abad ke-11, sekelompok tentara Norman yang dipimpin oleh Roger berkuda ke selatan Italia untuk merebut Sisilia dari orang-orang Arab Muslim.

Pada  tahun 1101 Roger berhasil menaklukkan Sisilia. Empat tahun kemudian, ia mewariskan Sisilia pada anaknya, Roger II, pada tahun 1130.

Tinggi, berambut gelap, berjanggut dan gemuk, Roger II, memerintah kerajaannya dengan bijaksana. Ia dikenal sebagai filsuf, matematikawan, dokter, ahli geografi, dan penyair.

Pada tahun 1138, di istana kerajaan Palermo, Sisilia, Roger II mengadakan pertemuan dengan seorang cendikiawan Muslim terkemuka. Saat cendikiawan Muslim itu memasuki aula, sang raja bangkit, dan membawanya melintasi marmer berkarpet untuk menduduki tempat terhormat di samping raja. Cendikiawaan Muslim itu diminta datang dari Afrika Utara untuk membahas peta dunia.

Cendikiawan Muslim tersebut yang merupakan ahli geografi bernama Muhammad Al-Idrisi. Ia lahir di Ceuta, Maroko. Setelah belajar di Cordoba, Spanyol, ia melakukan beberapa tahun perjalanan meliputi sepanjang Mediterania, Lisbon  hingga ke Damaskus.

Pada pertemuan itu, Roger II meminta Al Idrisi untuk membantu pembuatan peta yang saat itu masih simbolik dan hanya berdasarkan pada tradisi dan mitos ketimbang penyelidikan ilmiah. Roger II ingin membuat sebuah peta dunia dengan menampilkan garis pantai, tanjung, teluk, perairan dangkal, dan pelabuhan.

Dimulai dengan Akademi GeografiKeinginan Roger II untuk membuat peta ia percayakan kepada Al-Idrisi. Untuk melaksanakan proyek tersebut, Roger II mendirikan sebuah akademi geografi dengan dirinya sebagai direktur dan Al-Idrisi sebagai sekretaris. Roger II ingin tahu kondisi  yang tepat dari setiap daerah, iklim, jalan, sungai-sungai, dan laut dunia luar.

Akademi geografi  tersebut dimulai dengan mempelajari dan membandingkan karya-karya geografi sebelumnya dari 12 cendikiawan yang 10 diantaranya adalah Muslim.

Dominasi Muslim di bidang geografi dikarenakan para pedagang Muslim sering mencatat perjalanan mereka, menjelaskan rute, dan kondisi kota-kota di sepanjang jalan.

Beberapa di antara mereka adalah Ibnu Khurdadhbih, Al-Yaqubi, Qudamah, Ibnu Hawqal dan Al-Mas'udi. Dua ahli geografi dari era pra-Islam yang dilihat karya geografinya adalah Paulus Orosius dan Ptolemy.

Setelah memeriksa panjang lebar karya geografi mereka, Roger II dan Al Idrisi memutuskan untuk mulai mengumpulkan informasi. Pelabuhan Sisilia dipilih sebagai tempat yang ideal untuk mulai mengumpulkan informasi.

Selama bertahun-tahun hampir setiap kapal yang merapat di Palermo, Messina, Catania, atau Syracuse diinterogasi tentang tempat-tempat yang mereka kunjungi.

Tidak hanya mengandalkan informasi dari para pelaut, Roger II dan Al-Idrisi mengumpulkan informasi dari para wisatawan. Jika mereka menemukan wisatawan yang telah mengunjungi sebuah wilayah, maka wisatawan tersebut diminta untuk menceritakan daerah yang dikunjungi, tentang iklim negara tersebut.

Selain itu, bagaimana kondisi sungai, danau, gunung, pantai, dan tanahnya, bagaimana kondisi jalan, bangunan, monumen, tanaman, kerajinan, impor, dan ekspornya, bagaimana budaya, agama, adat dan bahasanya.

Jika informasi yang didapatkan dirasa masih kurang, maka dilakukan ekspedisi ilmiah ke daerah-daerah tersebut. Dalam ekspedisi ilmiah terdapat juru gambar dan kartografer sehingga dapat merekam visual wilayah tersebut.

Selama 15 tahun mengumpulkan informasi, Al-Idrisi dan Roger II membandingkan data, mencari fakta-fakta, dan membuang semua informasi yang bertentangan.  Akhirnya, pengumpulan informasi pun selesai dan pembuatan peta pun dimulai.

                                                               Peta dunia karya Al-Idrisi.

Membuat peta
Di bawah arahan Al-Idrisi, sebuah peta dibuat pada sebuah papan perak. Al-Idrisi menjelaskan bahwa bumi itu bulat seperti bola. Perkataan Al-Idrisi berlawanan dengan semua orang yang percaya bahwa bumi itu datar. Maka ia pun membuat peta bola dunia (globe) yang terbuat dari perak seberat 400 kilogram.

Al-Idrisi kemudian membuat garis yang menandai batas dari tujuh iklim dunia, timur dan barat dan dibatasi oleh lintang dari Kutub Utara hingga Khatulistiwa. Al-Idrisi mencatat dari Atlantik di Barat dan ke Cina di Timur 180 hingga 360 derajat bujur dunia.

Setelah sketsa kasar selesai dibuat oleh Al-Idrisi, para perajin perak memindahkan garis-garis besar negara, lautan, sungai, jurang, semenanjung dan pulau-pulau ke papan perak.




Read : Al-Idrisi, Kartografer Muslim Kepercayaan Raja (2)

Source: republika.co.id
newer post

Nasiruddin Al-Tusi, Ilmuwan Serba Bisa dari Persia (2)

0 komentar
Hulagu juga amat senang, ketika Nasirrudin mengungkapan rencananya untuk membangun Observatorium di Maragha.

Saat itu, Hulagu telah menjadikan Maragha yang berada di wilayah Azerbaijan sebagai ibu kota pemerintahannya.

Pada tahun 1259 M, Nasiruddin pun mulai membangun observatorium yang megah. Jejak dan bekas bangunan observatorium itu masih ada hingga sekarang.

Observatorium Maragha mulai beroperasi pada tahun 1262 M. Pembangunan dan operasional observatorium itu melibatkan sarjana dari Persia dibantu astronom dari Cina.

Teknologi yang digunakan di observatorium itu terbilang canggih pada zamannya. Beberapa peralatan dan teknologi penguak luar angkasa yang digunakan di observatorium itu ternyata merupakan penemuan Nasiruddin, salah satunya adalah 'kuadran azimuth'.

Selain itu, dia juga membangun perpustakaan di observatorium itu. Koleksi bukunya tebilang lengkap, terdiri dari beragam ilmu pengetahuan. Di tempat itu, Nasiruddin tak cuma mengembangkan bidang astronomi saja. Dia pun turut mengembangkan matematika dan filsafat.

Di observatorium yang dipimpinnya itu, Nasiruddin Al-Tusi berhasil membuat tabel pergerakan planet yang sangat akurat. Kontribusi lainnya yang amat penting bagi perkembangan astronomi adalah kitab Zij-i Ilkhani yang ditulis dalam bahasa Persia dan lalu diterjemahkan dalam bahasa Arab. Kitab itu disusun setelah 12 tahun memimpin Observatorium Maragha.

Selain itu, Nasiruddin juga berhasil menulis kitab terkemuka lainnya berjudul Al-Tadhkira fi'ilm Al-Hay'a (Memoar Astronomi). Nasiruddin mampu memodifikasi model semesta episiklus Ptolomeus dengan prinsip-prinsip mekanika untuk menjaga keseragaman rotasi benda-benda langit.

Nasiruddin meninggal dunia pada 26 Juni 1274 M di Baghdad. Meski begitu, jasa dan kontribusinya dalam pengembangan ilmu pengetahuan masih tetap dikenang. Namanya, dibadikan mejadi salah satu nama kawah di bulan.  
                                                  Oberservatorium Maragha karya Al-Tusi.


Sumbangan Penting Nasiruddin untuk Sains

Astronomi

Ia menulis beragam kitab yang mengupas tentang Astronomi. Nasiruddin juga membangun observatorium yang mampu menghasilkan tabel pergerakan planet secara akurat.

Model sistem plenaterium yang dibuatnya diyakini paling maju pada zamannya. Dia juga berhasil menemukan sebuah teknik geometrik yang dikenal di barat dengan a-Tusi-couple. Sejarah juga mencatat, Nasiruddin sebagai astronom pertama yang mengungkapkan bukti observasi empiris tentang rotasi bumi.


                           Salah satu karya Nasiruddin Al-Tusi yang dikenal dengan a-Tusi-couple.
 
Biologi
Nasiruddin juga turut memberi sumbangan dalam pengembangan ilmu hayat atau biologi. Ia menulis secara luas tentang biologi. Nasiruddin menempatkan dirinya sebagai perintis awal dalam evolusi biologi.

Dia memulai teorinya tentang evolusi dengan alam semesta yang terdiri dari elemen-eleman yang sama dan mirip. Menurutnya, kontradiksi internal mulai tampak sebagai sebuah hasil, dan beberapa zat mulai berkembang lebih cepat serta berbeda dengan zat lain.

Dia lalu menjelaskan bagaimana elemen-elemen berkembang menjadi mineral kemudian tanaman, kemudian hewan, dan kemudian manusia. Di juga menjelaskan bagaimana variabilitas heriditas merupakan faktor penting dalam evolusi biologi mahluk hidup.

Kimia

Dalam bidang kimia, Nasiruddin mengungkapkan versi awal tentang hukum kekekalan massa. ''Zat dalam tubuh tak bisa sepenuhnya menghilang. Zat itu hanya merubah bentuk, kondisi, komposisi, warna, dan bentuk lainnya yang berbeda,'' kata dia.

Matematika

Selain menghasilkan rumus sinus pada segitiga, Nasiruddin juga adalah matematikus pertama yang memisahkan trigonometri sebagai disiplin ilmu yang terpisah dari matematika.

Pencapaian penemu rumus sinis segitiga

Selama mendedikasikan hidupnya dalam pengembangan ilmu pengetahuan, Nasiruddin Al-Tusi telah menulis beragam kitab yang mengupas bermacam ilmu pengetahuan. Di antara kitab yang berhasil ditulisnya itu antara lain; kitab Tajrid-al-'Aqaid (sebuah kajian tentang ilmu kalam) dan Al-Tadhkirah fi Ilm Al-Hay'ah (sebuah memoar tentang ilmu astronomi).

Kitab tentang astronomi yang ditulis Nasiruddin itu banyak mendapat komentar dari para pakar astronomi. Komentar-komentar itu dibukukan dalam sebuah buku berjudul Syarah Al-Tadhkirah (Sebuah Komentar atas Al-Tadhkirah) yang ditulis Abdul Ali ibn Muhammad ibn Al-Husayn Al-Birjandi dan Nazzam Nishapuri.

Selain itu, Nasiruddin juga menulis kitab berjudul Akhlaq-i-Nasri yang mengupas tentang etika. Kitab lainnya yang terbilang populer adalah Al-Risalah Al-Asturlabiyah (Risalah Astrolabe). Kitab ini mengupas tentang peralatan yang digunakan dalam astronomi.
Di bidang astronomi, Nasiruddin juga menulis risalah yang amat populer, yakni Zij-i ilkhani (Tabel Ilkhanic). Ia juga menulis Syarah Al-Isharat, sebuah buku yang berisi kritik terhadap hasil kerja Ibnu Sina.

Selama tinggal di Nishapur, Nasiruddin memiliki reputasi yang cemerlang, sebagai ilmuwan yang beda dari yang lain. Pencapaian mengagumkan yang berhasil ditorehkan Nasiruddin dalam bidang matematika adalah pembuatan rumus sinus untuk segitiga, yakni; a/sin A = b/sin B = c/sin C.

read : Nasiruddin Al-Tusi, Ilmuwan Serba Bisa dari Persia (1)

Source: republika.co.id
newer post

Nasiruddin Al-Tusi, Ilmuwan Serba Bisa dari Persia (1)

0 komentar
Ilmuwan serba bisa. Julukan itu rasanya amat pantas disandang Nasiruddin Al-Tusi. Sumbangannya bagi perkembangan ilmu pengetahuan modern sungguh tak ternilai besarnya.

Selama hidupnya, ilmuwan Muslim dari Persia itu mendedikasikan diri untuk mengembangkan beragam ilmu seperti, astronomi, biologi, kimia, matematika, filsafat, kedokteran, hingga ilmu agama Islam.

Sarjana Muslim yang kemasyhurannya setara dengan teolog dan filsuf besar sejarah gereja, Thomas Aquinas, itu memiliki nama lengkap Abu Ja'far Muhammad ibn Muhammad ibn Al-Hasan Nasiruddin Al-Tusi.

Ia lahir pada 18 Februari 1201 M di Kota Tus yang terletak di dekat Meshed, sebelah timur laut Iran. Sebagai seorang ilmuwan yang amat kondang di zamannya, Nasiruddin memiliki banyak nama. Antara lain Muhaqqiq Al-Tusi, Khuwaja Tusi, dan Khuwaja Nasir.

Nasiruddin lahir di awal abad ke-13 M, ketika dunia Islam tengah mengalami masa-masa sulit. Pada era itu, kekuatan militer Mongol yang begitu kuat menginvasi wilayah kekuasaan Islam yang amat luas. Kota-kota Islam dihancurkan dan penduduknya dibantai habis tentara Mongol dengan sangat kejam.

Menurut JJ O'Connor dan EF Robertson, pada masa itu dunia diliputi kecemasan. Hilangnya rasa aman dan ketenangan itu membuat banyak ilmuwan sulit untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.

Nasiruddin pun tak dapat mengelak dari konflik yang melanda negerinya. Sejak kecil, Nasiruddin digembleng ilmu agama oleh ayahnya yang berprofesi sebagai seorang ahli hukum di Sekolah Imam Keduabelas.

Selain digembleng ilmu agama di sekolah itu, Nasiruddin juga mempelajari beragam topik ilmu pengetahuan lainnya dari sang paman. Menurut O'Connor dan Robertson, pengetahuan tambahan yang diperoleh dari pamannya itu begitu berpengaruh pada perkembangan intelektual Nasiruddin.

Pengetahuan pertama yang diperolehnya dari sang paman antara lain logika, fisika, dan metafisika. Selain itu, Nasiruddin juga mempelajari matematika pada guru lainnya. Ia begitu tertarik pada aljabar dan geometri.

Ketika menginjak usia 13 tahun, kondisi keamanan kian tak menentu. Pasukan Mongol di bawah pimpinan Jengis Khan yang berutal dan sadis mulai bergerak cepat dari Cina ke wilayah barat. Sebelum tentara Mongol menghancurkan kota kelahirannya, dia sudah mempelajari dan menguasai beragam ilmu pengetahuan.
                                            Salah satu kitab karya Nasiruddin Al-Tusi.

Untuk menimba ilmu lebih banyak lagi, Nasiruddin hijrah dari kota kelahirannya ke Nishapur—sebuah kota yang berjarak 75 kilometer di sebelah barat Tus.

Di kota itulah, Nasiruddin menyelesaikan pendidikan filsafat, kedokteran, dan matematika. Dia sungguh beruntung, karena bisa belajar matematika dari Kamaluddin ibn Yunus. Kariernya mulai melejit di Nishapur. Nasiruddin pun mulai dikenal sebagai seorang sarjana yang hebat.

Pada tahun 1220 M, invasi militer Mongol telah mencapai Tus dan kota kelahiran Nasiruddin pun dihancurkan. Ketika situasi keamanan tak menentu, penguasa Ismailiyah Nasiruddin 'Abdurrahim mengajak sang ilmuwan itu untuk bergabung.

Tawaran itu tak disia-siakannya. Nasiruddin pun bergabung menjadi salah seorang pejabat di Istana Ismailiyah. Selama mengabdi di istana itu, Nasiruddin mengisi waktunya untuk menulis beragam karya yang penting tentang logika, filsafat, matematika, serta astronomi. Karya pertamanya adalah kitab Akhlag-i Nasiri yang ditulisnya pada 1232 M.

Pasukan Mongol yang dipimpin Hulagu Khan—cucu Jengis Khan—pada tahun 1251 M akhirnya menguasai Istana Alamut dan meluluh-lantakannya. Nyawa Nasiruddin selamat, karena Hulagu ternyata sangat menaruh minat terhadap ilmu pengetahuan. Hulagu yang dikenal bengis dan kejam memperlakukan Nasiruddin dengan penuh hormat. Dia pun diangkat Hulagu menjadi penasihat di bidang ilmu pengetahuan.

Meski telah menjadi penasihat pasukan Mongol, sayangnya Nasiruddin tak mampu menghentikan ulah dan kebiadaban Hulagu Khan yang membumihanguskan kota metropolis intelektual dunia, Baghdad, pada tahun 1258 M.

Terlebih, saat itu Dinasti Abbasiyah berada dalam kekuasaan Khalifah Al-Musta'sim yang lemah. Terbukti, militer Abbasiyah tak mampu membendung gempuran pasukan Mongol.

Meski tak mampu mencegah terjadinya serangan bangsa Mongol, paling tidak Nasiruddin bisa menyelamatkan dirinya dan masih berkesempatan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya.

"Hulagu sangat bangga karena berhasil menaklukkan Baghdad dan lebih bangga lagi karena ilmuwan terkemuka seperti Al-Tusi bisa bergabung bersamanya,'' papar O'Connor dan Robertson dalam tulisannya tentang sejarah Nasiruddin.

Read: Nasiruddin Al-Tusi, Ilmuwan Serba Bisa dari Persia (2)

Source: republika.co.id
newer post
newer post older post Home