Jumat, 20 Juli 2012

Mujahidah: Aisyah binti Thalhah

“Saya tidak melihat seorang pun yang lebih cantik (indah) dari Aisyah binti Thalhah, kecuali Muawiyah saat berada di atas mimbar Rasulullah SAW.” (HR Abu Hurairah)

Tidak sedikit riwayat yang menggambarkan kecantikan paras Aisyah binti Thalhah. Bahkan ada yang mengumpamakan putri dari Thalhah bin Ubaidillah ini bagaikan bidadari surga yang ada di dunia.

Namun sebenarnya, tidak hanya kecantikan fisik yang dimiliki Aisyah. Sosoknya dikenal sebagai perempuan yang cerdas dan akrab dengan istri Rasulullah SAW, Aisyah binti Abu Bakar.

Namanya pun terukir sebagai perempuan mulia yang banyak mendapatkan hadis-hadis dari Aisyah, Ummul Mukminin. Kedekatan antara Aisyah binti Thalhah dengan Aisyah binti Abu Bakar terukir karena adanya hubungan saudara.

Aisyah istri Rasulullah SAW tidak lain adalah bibi Aisyah binti Thalhah. Namun di sisi lain, Aisyah RA sangat percaya dengan kecerdasan dan kehebatan keponakannya yang satu ini.

Aisyah binti Thalhah tidak segan berguru kepada bibinya. Sebaliknya, Aisyah Ummul Mukminin tidak ragu membimbing, mencurahkan ilmu-ilmu, dan adab-adab Islam kepada murid kesayangan yang juga keponakan ini.

Kecerdasan Aisyah yang luar biasa sehingga namanya masuk dalam jajaran murid Aisyah Ummul Mukminin yang cerdas. Selain Aisyah binti Thalahah, ada nama Amrah binti Abdurrahman, dan Hafshah binti Sirin yang menjadi kebanggaan Aisyah Ummul Mukminin.

Aisyah binti Thalhah dikenal sebagai tabi’in yang juga perawi hadis yang bisa dipercaya. Tidak sedikit hadis shahih yang diriwayatkan Aisyah binti Thalhah bersumber dari bibinya, Aisyah RA.

Diantaranya hadis riwayat dari Abu Dawud dengan sanad dari Al-Minhal bin Amr dari Aisyah bin Thalhah dari Ummul Mukminin Aisyah RA. “Saya tidak melihat orang yang paling banyak kemiripan tingkah, sikap, dan kebaikan hati seperti Rasulullah SAW melebihi Fatimah RA. Ketika datang menemui Rasulullah SAW, beliau meraih tangan Fatimah lalu menciumnya dan duduk di tempat duduknya...”

Hadis lain seperti tercantum dalam kumpulan hadis shahih yang dikeluarkan Imam Muslim dengan sanad dari Thalhah bin Yahya bin Thalhah dari Aisyah binti Thalhah dan dari Aisyah Ummul Mukminin, “Rasulullah SAW bersabda, orang tercepat dari kalian yang menyusulku adalah orang dari kalian yang terpanjang tangannya.”

Mendengar sabda Rasulullah SAW tersebut, masing-masing menjulurkan tangannya untuk mengukur siapa yang terpanjang tangannya. Ternyata tangan istri Rasulullah SAW, Zainab binti Jahsy, yang terpanjang tangannya.

Makna dari panjang tangan di sini sebagai perumpamaan istri yang giat bekerja, selalu memenuhi kebutuhan Rasulullah dengan tangannya sendiri. Zainab binti Jahsy dikenal sebagai istri Rasulullah yang banyak memberi sedekah.

Siapa sebenarnya Aisyah binti Thalhah? Dia lahir di Madinah dan erat hubungannya dengan kerabat Rasulullah SAW. Ayahnya Thalhah bin Ubaidillah At-Taimi Al-Quraisyi termasuk 10 sahabat Rasulullah SAW yang dijanjikan meraih surga.

Begitu banyak julukan yang disematkan kepada ayah Aisyah ini.  Di antaranya Thalhah Al-Fayyadh, yaitu orang yang senang berderma. Ada juga yang menyapanya sebagai Ash-Shabih, Al-Malih, Al-fashih, yaitu yang sangat cemerlang, ramah, serta baik tutur katanya.

Sedangkan ibunda Aisyah bernama Ummu Kultsum binti Abi Bakar At-Taimi Al-Quraisyi. Nama Ummu Kultsum pernah disampaikan Abu Bakar kepada putrinya, Aisyah menjelang kematiannya. “Sesungguhnya mereka berdua adalah dua saudaramu laki-laki dan dua saudaramu perempuan.”

Aisyah menjawab, “Asma yang sudah saya kenal, lalu mana yang lainnya?” Ayahnya mengatakan, dia berada di kandungan istrinya Habibah yang tengah hamil tua. Bayi dalam kandungan itu adalah Ummu Kultsum (ibunya Aisyah binti Thalhah).

Aisyah binti Thalhah menikah dengan saudara sepupunya yang bernama Abdullah bin Abdurrahman bin Abu Bakar Ash-Shiddiq. Pasangan ini dikaruniai lima anak, yaitu Imran, Abdurrahman, Abu Bakar, Thalhah, dan Nafisah. Putra Aisyah yang bernama Thalhah bin Abdullah mengikuti jejak kakeknya yang gemar berderma sehingga menjadi tokoh yang dihormati oleh masyarakat Quraisy.

Semasa hidupnya, Aisyah binti Thalhah menghabiskan waktu untuk beribadah dan banyak berzikir.

Jiwanya bersih, makanya dia dikenal sebagai perempuan mulia yang bisa dipercaya. Karena kebersihan hatinya dia pernah bermimpi bertemu ayahnya yang sudah meninggal 30 tahun lalu.

Dalam mimpinya, Thalhah meminta putrinya segera merapikan rembesan air yang mengganggunya. Begitu terbangun, Aisyah segera memanggil kerabatnya segera menuju makam ayahnya.

Ketika makam Thalhah digali, kondisinya masih utuh seperti sediakala. Namun, sisi badannya berwarna hijau seperti bilur air yang mengalir di tubuhnya. Pembongkaran makam Thalhah bin Ubaidillah dipimpin oleh Abdurrahman bin Salamah Al-Taimi.

Lalu Aisyah membeli sebidang tanah dari Abu Bakarah di Basrah untuk menguburkan kembali ayahnya. Setelah diganti kain kafannya, jenazah Thalhah dikebumikan kembali. Di sekitar makam ayahnya dibangun masjid yang kini banyak dikunjungi.

Kehidupan Aisyah dianggap sebagai perempuan langka di jamannya. Dia memiliki fisik yang nyaris sempurna, wajah cantik dibekali pula budi pekerti yang luhur, cerdas dan rajin beribadah.

Karenanya, banyak ulama memuji dan memasukkan Aisyah sebagai tokoh ilmu hadis dalam golongan perawi yang tsiqah (bisa dipercaya). Selain itu, hadis-hadisnya terkenal bisa dijadikan hujjah, yaitu sandaran argumentasi hukum.

Abu Zar’ah Ad-Dimasyqi berkata, “Aisyah binti Thalhah adalah perempuan mulia yang meriwayatkan hadis dari Aisyah Ummul Mukminin dan banyak orang meriwayatkan hadisnya karena kedudukan dan adabnya.”

Al-Ajli menilai Aisyah binti Thalhah adalah seorang perempuan yang berpikiran positif, seorang tabi’in, dan tsiqah. Aisyah wafat tahun 101 H di Madinah.


Source: republika.co.id

0 komentar:

Posting Komentar

newer post older post Home