Jumat, 20 Juli 2012

Khazanah Ilmu Kesehatan Islam

0 komentar
Islam mengajarkan umatnya untuk senantiasa menjaga kebersihan, baik diri sendiri maupun lingkungan sekitarnya.

Rasulullah SAW bersabda, ''Kebersihan itu adalah sebagian daripada iman.'' Jika kebersihan diri dan lingkungan sudah terjaga, tentu kesehatan akan diperoleh.

Dalam ajaran Islam, menjaga kebersihan diri dapat dilakukan dengan cara selalu menyucikan diri setiap kali selesai berhadas besar ataupun kecil, berwudhu setiap kali akan melaksanakan shalat, dan mandi.

Sementara itu, kebersihan lingkungan di antaranya dapat dilakukan dengan tidak membuang sampah di sembarang tempat.

Jalaluddin Al-Suyuti memberi penjelasan dalam kitabnya yang bertajuk Mukhtashar Al-Tibb Al-Nabawi. Menurutnya, selain menjaga kebersihan, Rasulullah SAW juga telah mencontohkan upaya-upaya lainnya dalam menjaga kesehatan.

Upaya tersebut, dalam dunia kesehatan modern saat ini, disebut sebagai tindakan pencegahan (preventif). Al-Suyuti menguraikan langkah preventif yang dicontohkan Rasulullah SAW, seperti mengonsumi makanan yang halal, berolahraga, dan kontrol diet untuk mencegah berat badan berlebihan.

Selain ilmu mengenai kesehatan umum, peradaban Islam juga telah mengenal ilmu kedokteran. Sejak zaman Rasulullah SAW, ilmu kedokteran merupakan ilmu yang dipelajari dengan seksama.

Haris bin Kaladah adalah seorang dokter zaman jahiliyah yang masih hidup pada zaman Nabi SAW. Walaupun ia bukan seorang Muslim, Nabi SAW menyuruh kaum Muslim yang sakit untuk berobat kepadanya. Putranya, Nadar bin Haris bin Kaladah, juga menjadi dokter yang terkenal.

Dokter Muslim pertama yang menulis buku adalah Ali At-Tabari. Dia adalah dokter Suriah yang masuk Islam pada tahun 855 dan merupakan dokter pribadi Khalifah Al-Mutawakkil. Dia menulis buku kedokteran pertama dalam bahasa Arab, yaitu Firdaus Al-Hikmah. Buku ini berisi ilmu kedokteran dalam kerangka pikir Yunani dan India.

Dokter Muslim saat mengobati pasien (ilustrasi)

Abu Bakar Muhammad bin Zakaria Ar-Razi (Rhazes), seorang dokter dan ahli kimia serta filsafat, telah menulis dua ratus judul buku mengenai kedokteran.

Di antaranya adalah Al-Mansuri (diterjemahkan menjadi Liber Almansoris pada abad ke-15) terdiri atas 10 jilid dan Al-Judari wa Al-Hasbah (Penyakit Cacar dan Campak).

Dokter terbesar dalam sejarah Islam adalah Ibnu Sina yang juga seorang filsuf besar. Dia digelari Medicorum Principal alias Raja Diraja Dokter oleh tradisi kedokteran Eropa klasik. Ibnu Sina menulis banyak buku tentang kedokteran, seperti Al-Qanun fi At-Tibb (Prinsip-prinsip Kedokteran).

Tokoh kedokteran Muslim lainnya adalah Abul Qasim az-Zahrawi Al-Qurtubi (936-1013) yang dikenal di Eropa sebagai Abulcasis. Dia adalah ahli bedah dan dokter gigi Muslim berkebangsaan Spanyol pada masa pemerintahan Abdurrahman III (890-961).

Dia menulis sebuah ensiklopedi berjudul At-Tasrif li Man Arjaza 'an At-Ta'lif. Jilid terakhir dari ensiklopedi ini menerangkan dengan jelas diagram dua ratus macam alat bedah.

Sementara itu, Ibnu Rusyd yang dikenal sebagai Averoes di Barat (1126-1198) merupakan perintis ilmu jaringan tubuh (histologi). Karyanya berjudul Al-Kulliyyat fi At-Tibb (Kedokteran Umum). Dalam buku ini, dijelaskan bahwa seseorang tidak akan terjangkit penyakit cacar dua kali. Ia juga menjelaskan fungsi retina.

Tak hanya dari kalangan pria, sejarah Islam mencatat ada beberapa tokoh Muslim wanita yang menjadi dokter. Beberapa di antaranya adalah Ukhtu Al-Hufaid bin Zuhur dan putrinya adalah dokter wanita yang bekerja di Istana Khalifah Al-Mansur di Andalusia. Zainab adalah ahli penyakit mata dan ilmu bedah zaman Bani Umayyah. Kemudian, ada pula Syahadatu Dinuriyah dan Binti Duhain Al-Luz Damsyiqiah di Suriah.


Source: republika.co.id
newer post

Utsman bin Affan, Pemilik Dua Cahaya

0 komentar
Utsman bin Affan bin Abul Ash lahir dari keluarga yang kaya dan berpengaruh dari suku bangsa Quraish silsilah Bani Umayyah.

Usianya lebih muda lima tahun dari Rasulullah SAW. Utsman mendapatkan pendidikan yang baik, ia telah belajar membaca dan menulis pada usia dini. Di masa mudanya, Utsman telah menjadi seorang pedagang yang kaya.

Utsman berasal dari strata sosial dan ekonomi tinggi yang pertama-tama memeluk Islam. Dia memiliki kepribadian yang baik, bahkan sebelum beliau memeluk Islam—terkenal dengan kejujuran dan integritasnya.

Rasulullah SAW bersabda,"Orang yang paling penuh kasih sayang dari umatku kepada umatku adalah Abu Bakar, yang paling gagah berani membela agama Allah adalah Umar, dan yang paling jujur dalam kerendah-hatiannya adalah Utsman.”

Mengenai sifat rendah hatinya Utsman ini, Rasulullah SAW sampai berkata, “Tidakkah aku merasa malu terhadap seseorang yang bahkan malaikat pun malu tehadapnya?”

Kepribadian Utsman benar-benar merupakan gambaran dari akhlak yang baik menurut Islam (akhlakul karimah). Dia jujur, dermawan dan sangat baik hati. Rasulullah SAW mencintai Utsman karena akhlaknya.

Mungkin itulah alasan mengapa Rasulullah SAW mengizinkan dua putrinya untuk menjadi istri Utsman. Yang pertama adalah Ruqayyah, ia meninggal setelah Perang Badar.

Rasulullah SAW sangat tersentuh akan kesedihan yang dialami Utsman sepeninggal Ruqayyah dan menasihatinya untuk menikahi seorang lagi anak perempuan beliau, Ummu Kultsum. Karena kehormatan yang besar dapat menikahi dua anak perempuan Rasulullah, Utsman terkenal dengan sebutan Dzun Nurain atau Sang Pemilik Dua Cahaya.

Kedermawanan Utsman tampak pada kehidupannya sehari-hari. Ketika bencana kekeringan melanda Kota Madinah, kaum Muslimin terpaksa menggunakan sumur Rum sebagai sumber mata air satu-satunya.

Sayangnya, sumur tersebut adalah milik Yusuf, seorang Yahudi tua yang serakah. Untuk mengambil air sumur itu, kaum Muslimin harus membayar mahal dengan harga yang ditetapkan si Yahudi.

Melihat keadaan penduduk Madinah, Utsman bin Affan segera menemui Yusuf. “Wahai Yusuf, maukah engkau menjual sumur Rum ini kepadaku?”

Yahudi tua yang sedang ‘mabok uang’ itu segera menyambut permintaan Utsman. Dalam benaknya ia berpikir, Utsman adalah orang kaya. Ia pasti mau membeli sumurnya berapa pun yang ia minta.

Namun, di sisi lain ia juga tidak mau kehilangan mata pencariannya itu begitu saja. “Saya bersedia menjual sumur ini? Berapa engkau sanggup membayarnya?” tanya Yusuf.

“Sepuluh ribu dirham!” jawab Utsman.

Si Yahudi tua tersenyum sinis. “Sumur ini hanya akan saya jual separuhnya. Kalau bersedia, sekarang juga kau bayar 12 ribu dirham, dan sumur kita bagi dua. Sehari untukmu dan sehari untukku. Bagaimana?”

Setelah berpikir sejenak, Utsman menjawab, “Baiklah, aku terima tawaranmu.” Setelah membayar seharga yang diinginkan, Utsman menyuruh pelayannya untuk mengumumkan kepada para penduduk, bahwa mereka bebas mengambil sumur Rum secara gratis.

Sejak saat itu, penduduk Madinah bebas mengambil air sebanyak mungkin untuk keperluan mereka. Lain halnya dengan si Yahudi tua. Ia kebingungan lantaran tak seorang pun yang membeli airnya.

Ketika Utsman datang menemuinya untuk membeli separuh sisa air sumurnya, ia tidak bisa menolak walau dengan harga yang sangat murah sekalipun.

Ketika Perang Tabuk meletus, Utsman menanggung sepertiga biayanya. Seluruh hartanya ia sumbangkan sehingga mencapai 900 ekor unta dan 100 ekor kuda. Belum lagi uang yang jumlahnya ribuan dinar.

Khalifah Rasyidah ketiga

Khalifah sebelumnya, Umar bin Khathab telah menyiapkan sebuah komite yang terdiri dari enam dari sepuluh orang sahabat Rasulullah SAW untuk memilih khalifah di antara mereka.

Mereka adalah Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah, Abdurahman bin Auf dan Sa’ad bin Abi Waqqash. Di antara mereka yang dipilih sebagai khalifah Islam yang ketiga adalah Utsman bin Affan.

Enam tahun pertama masa pemerintahan Utsman bin Affan berjalan dengan damai, namun enam tahun masa pemerintahan sesudahnya, terjadi pemberontakan. Sayangnya Utsman tidak dapat menindak tegas para pemberontak ini. Dia selalu berusaha untuk membangun komunikasi yang berlandaskan kasih sayang dan kelapangan hati.

Tatkala para pemberontak memaksanya untuk melepaskan kursi kekhalifahan, dia menolak dengan mengutip perkataan Rasulullah SAW, “Suatu saat nanti, mungkin Allah SWT akan memakaikan baju padamu, wahai Utsman. Dan jika orang-orang menghendakimu untuk melepaskannya, jangan lepaskan hanya karena orang-orang itu!”

Setelah terjadi pengepungan yang lama, akhirnya pemberontak berhasil memasuki rumah Utsman dan membunuhnya. Utsman bin Affan syahid pada hari Jum’at, 17 Dzulhijjah 35 H setelah memerintah selama dua belas tahun.

Selama masa kekhalifahan Utsman bin Affan, kejayaan Islam terbentang dari Armenia, Kaukasia, Khurasan, Kirman, Sijistan, Cyprus hingga mencapai Afrika Utara. Kontribusi Utsman yang paling besar dalam sejarah Islam adalah kompilasi teks asli Alquran yang lengkap.

Banyak salinan Alquran berdasarkan teks asli juga telah dibuat dan didistribusikan ke seluruh dunia Islam. Dalam mengerjakan proyek yang besar ini, dia dibantu dan banyak mendapatkan masukan dari Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Sa’id bin Al-Ash dan Abdurrahman bin Al-Harits.

Utsman juga berhasil membangun administrasi kekhalifahan yang terpusat dan memantapkan penerbitan Alquran yang resmi.

Pengadilan agama yang semula dilakukan di masjid, oleh Utsman dibangun gedung baru, khusus gedung pengadilan. Dia juga yang mengadakan perluasan Masjid Nabawi dan Masjidil Haram serta membentuk armada laut Islam yang pertama ketika terjadi Perang Dzatu Sawari (perang tiang kapal) yang dipimpin oleh Muawiyah bin Abu Sufyan.


Source: republika.co.id
newer post

Mujahidah: Aisyah binti Thalhah

0 komentar
“Saya tidak melihat seorang pun yang lebih cantik (indah) dari Aisyah binti Thalhah, kecuali Muawiyah saat berada di atas mimbar Rasulullah SAW.” (HR Abu Hurairah)

Tidak sedikit riwayat yang menggambarkan kecantikan paras Aisyah binti Thalhah. Bahkan ada yang mengumpamakan putri dari Thalhah bin Ubaidillah ini bagaikan bidadari surga yang ada di dunia.

Namun sebenarnya, tidak hanya kecantikan fisik yang dimiliki Aisyah. Sosoknya dikenal sebagai perempuan yang cerdas dan akrab dengan istri Rasulullah SAW, Aisyah binti Abu Bakar.

Namanya pun terukir sebagai perempuan mulia yang banyak mendapatkan hadis-hadis dari Aisyah, Ummul Mukminin. Kedekatan antara Aisyah binti Thalhah dengan Aisyah binti Abu Bakar terukir karena adanya hubungan saudara.

Aisyah istri Rasulullah SAW tidak lain adalah bibi Aisyah binti Thalhah. Namun di sisi lain, Aisyah RA sangat percaya dengan kecerdasan dan kehebatan keponakannya yang satu ini.

Aisyah binti Thalhah tidak segan berguru kepada bibinya. Sebaliknya, Aisyah Ummul Mukminin tidak ragu membimbing, mencurahkan ilmu-ilmu, dan adab-adab Islam kepada murid kesayangan yang juga keponakan ini.

Kecerdasan Aisyah yang luar biasa sehingga namanya masuk dalam jajaran murid Aisyah Ummul Mukminin yang cerdas. Selain Aisyah binti Thalahah, ada nama Amrah binti Abdurrahman, dan Hafshah binti Sirin yang menjadi kebanggaan Aisyah Ummul Mukminin.

Aisyah binti Thalhah dikenal sebagai tabi’in yang juga perawi hadis yang bisa dipercaya. Tidak sedikit hadis shahih yang diriwayatkan Aisyah binti Thalhah bersumber dari bibinya, Aisyah RA.

Diantaranya hadis riwayat dari Abu Dawud dengan sanad dari Al-Minhal bin Amr dari Aisyah bin Thalhah dari Ummul Mukminin Aisyah RA. “Saya tidak melihat orang yang paling banyak kemiripan tingkah, sikap, dan kebaikan hati seperti Rasulullah SAW melebihi Fatimah RA. Ketika datang menemui Rasulullah SAW, beliau meraih tangan Fatimah lalu menciumnya dan duduk di tempat duduknya...”

Hadis lain seperti tercantum dalam kumpulan hadis shahih yang dikeluarkan Imam Muslim dengan sanad dari Thalhah bin Yahya bin Thalhah dari Aisyah binti Thalhah dan dari Aisyah Ummul Mukminin, “Rasulullah SAW bersabda, orang tercepat dari kalian yang menyusulku adalah orang dari kalian yang terpanjang tangannya.”

Mendengar sabda Rasulullah SAW tersebut, masing-masing menjulurkan tangannya untuk mengukur siapa yang terpanjang tangannya. Ternyata tangan istri Rasulullah SAW, Zainab binti Jahsy, yang terpanjang tangannya.

Makna dari panjang tangan di sini sebagai perumpamaan istri yang giat bekerja, selalu memenuhi kebutuhan Rasulullah dengan tangannya sendiri. Zainab binti Jahsy dikenal sebagai istri Rasulullah yang banyak memberi sedekah.

Siapa sebenarnya Aisyah binti Thalhah? Dia lahir di Madinah dan erat hubungannya dengan kerabat Rasulullah SAW. Ayahnya Thalhah bin Ubaidillah At-Taimi Al-Quraisyi termasuk 10 sahabat Rasulullah SAW yang dijanjikan meraih surga.

Begitu banyak julukan yang disematkan kepada ayah Aisyah ini.  Di antaranya Thalhah Al-Fayyadh, yaitu orang yang senang berderma. Ada juga yang menyapanya sebagai Ash-Shabih, Al-Malih, Al-fashih, yaitu yang sangat cemerlang, ramah, serta baik tutur katanya.

Sedangkan ibunda Aisyah bernama Ummu Kultsum binti Abi Bakar At-Taimi Al-Quraisyi. Nama Ummu Kultsum pernah disampaikan Abu Bakar kepada putrinya, Aisyah menjelang kematiannya. “Sesungguhnya mereka berdua adalah dua saudaramu laki-laki dan dua saudaramu perempuan.”

Aisyah menjawab, “Asma yang sudah saya kenal, lalu mana yang lainnya?” Ayahnya mengatakan, dia berada di kandungan istrinya Habibah yang tengah hamil tua. Bayi dalam kandungan itu adalah Ummu Kultsum (ibunya Aisyah binti Thalhah).

Aisyah binti Thalhah menikah dengan saudara sepupunya yang bernama Abdullah bin Abdurrahman bin Abu Bakar Ash-Shiddiq. Pasangan ini dikaruniai lima anak, yaitu Imran, Abdurrahman, Abu Bakar, Thalhah, dan Nafisah. Putra Aisyah yang bernama Thalhah bin Abdullah mengikuti jejak kakeknya yang gemar berderma sehingga menjadi tokoh yang dihormati oleh masyarakat Quraisy.

Semasa hidupnya, Aisyah binti Thalhah menghabiskan waktu untuk beribadah dan banyak berzikir.

Jiwanya bersih, makanya dia dikenal sebagai perempuan mulia yang bisa dipercaya. Karena kebersihan hatinya dia pernah bermimpi bertemu ayahnya yang sudah meninggal 30 tahun lalu.

Dalam mimpinya, Thalhah meminta putrinya segera merapikan rembesan air yang mengganggunya. Begitu terbangun, Aisyah segera memanggil kerabatnya segera menuju makam ayahnya.

Ketika makam Thalhah digali, kondisinya masih utuh seperti sediakala. Namun, sisi badannya berwarna hijau seperti bilur air yang mengalir di tubuhnya. Pembongkaran makam Thalhah bin Ubaidillah dipimpin oleh Abdurrahman bin Salamah Al-Taimi.

Lalu Aisyah membeli sebidang tanah dari Abu Bakarah di Basrah untuk menguburkan kembali ayahnya. Setelah diganti kain kafannya, jenazah Thalhah dikebumikan kembali. Di sekitar makam ayahnya dibangun masjid yang kini banyak dikunjungi.

Kehidupan Aisyah dianggap sebagai perempuan langka di jamannya. Dia memiliki fisik yang nyaris sempurna, wajah cantik dibekali pula budi pekerti yang luhur, cerdas dan rajin beribadah.

Karenanya, banyak ulama memuji dan memasukkan Aisyah sebagai tokoh ilmu hadis dalam golongan perawi yang tsiqah (bisa dipercaya). Selain itu, hadis-hadisnya terkenal bisa dijadikan hujjah, yaitu sandaran argumentasi hukum.

Abu Zar’ah Ad-Dimasyqi berkata, “Aisyah binti Thalhah adalah perempuan mulia yang meriwayatkan hadis dari Aisyah Ummul Mukminin dan banyak orang meriwayatkan hadisnya karena kedudukan dan adabnya.”

Al-Ajli menilai Aisyah binti Thalhah adalah seorang perempuan yang berpikiran positif, seorang tabi’in, dan tsiqah. Aisyah wafat tahun 101 H di Madinah.


Source: republika.co.id
newer post

Damaskus, Kota Ilmu dan Peradaban

0 komentar
Salah satu sudut kota tua Damaskus, Suriah
Suatu hari, penjelajah kondang asal Maroko, Ibnu Battuta (1304-1368 M) menginjakkan kakinya di Damaskus. Ia begitu kagum melihat kehidupan sosial masyarakatnya yang dermawan dan pemurah.

Ketika itu, sederet lembaga amal berdiri untuk meringankan beban bagi orang-orang yang tak berpunya dan membutuhkan bantuan. “Semangat sosial masyarakat Damaskus begitu tinggi,'' kisah Ibnu Battuta dalam catatan perjalanannya.

Saking banyaknya lembaga amal yang berdiri di kota itu, sampai-sampai Ibnu Battuta merasa sulit untuk menghitungnya. Saat itu, orang yang tak mampu menunaikan ibadah haji ke Makkah akan dibiayai lembaga amal yang ada.

Masyarakat Damaskus pun berlomba-lomba mewakafkan tanahnya untuk sekolah, rumah sakit serta masjid. Damaskus tak hanya dikenal sejarah sebagai kota yang dermawan karena kemakmurannya, namun juga pemurah karena sifatnya.

Bianquis mencatat, begitu terbukanya Damaskus bagi para pengungsi asal Andalusia yang terusir dari negeri Spanyol, ketika Kristen menguasai tanah itu pada abad ke 12 M.

Seabad kemudian, Damaskus menjadi tempat berlabuh warga Iran dan Irak ketika bangsa Mongol menghancurkan tanah kelahiran mereka. Pada abad ke-16, lagi-lagi Damaskus menjadi tempat berlindung pengungsi dari Spanyol, baik Muslim maupun Yahudi.

Tiga abad berselang, kota ini kembali menjadi tanah harapan bagi warga Kaukasus, Kurdi, dan Turki dari ancaman tentara Rusia.

Selain dikenal sebagai kota yang pemurah dan dermawan, Damaskus juga kesohor sebagai salah satu pusat ilmu pengetahuan dalam sejarah peradaban Islam. Pada masa kekuasaan Khalifah Nur A-Din Zanki berkuasa, di Damaskus dibangun sekolah. Khalifah juga mewariskan begitu banyak buku untuk perpustakaan yang ada di kota itu.

                                               Masjid Umayyah di Kota Damaskus, Suriah.

Catatan tentang pesatnya perkembangan ilmu di Damaskus juga digambarkan seorang penjelajah Muslim lainnya, Ibnu Jubair.

Saat bertandang ke kota itu pada tahun 1184, dia menyaksikan begitu banyak fasilitas bagi pelajar asing dan pengunjung di Masjid Umayyah. Tak heran, bila Ibnu Jubair mendorong para pelajar dan mahasiswa dari Spanyol untuk pergi menimba ilmu ke Timur.

“Setiap orang di Barat yang ingin meraih sukses datang ke kota ini (Damaskus) untuk belajar. Sebab, fasilitas dan bantuan di sini begitu melimpah. Para pelajar yang menimba ilmu di sini tak pernah khawatir kekurangan makanan dan tempat bernaung,” papar Ibnu Jubair dalam catatan perjalanannya.

Pelopor universitas modern pertama di Damaskus dibangun penguasa Seljuk, Nizam Al-Mulk. Sepeninggal Nizam, bermunculan madrasah atau universitas di seantero kota itu pada abad pertengahan.

Menurut Tawtah, ketika itu di Damaskus berdiri 73 perguruan tinggi, 41 universitas di Yerusalem, 40 universitas di Baghdad, 14 perguruan tinggi di Aleppo, 13 universitas di Tripoli, serta 74 perguruan tinggi di Kairo.

Namun, ada pula yang menyebutkan jumlah perguruan tinggi di Damaskus pada era kejayaan Islam mencapai 150 buah. Menurut Ibnu Jubair, madrasah yang paling favorit serta terbaik di dunia saat itu adalah Al-Nuriyyah Al-Kubra berada di Damaskus. Perguruan tinggi itu didirikan Khalifah Nur Al-Din.

Selain itu, Ibnu Jubair juga mencatat di kota itu berdiri sebuah rumah sakit tua dan sebuah rumah sakit baru. Rumah sakit yang dibangun umat Islam pertama adalah RS Al-Nuri yang dibangun pada tahun 706 M oleh Khalifah Al-Walid Ibn Abd Al-Malik dari Dinasti Ummayah.

RS itu dilengkapi dengan peralatan paling modern dan tenaga dokter serta perawat yang profesional. Pada era itu, Damaskus tumbuh pesat sebagai salah kota penting yang dikuasai umat Islam.

Salah satu sudut Kota Damaskus, Suriah.
                                                     
Secara geografis, Damaskus terletak di sebelah Barat Daya Suriah. Ibu kota Republik Arab Suriah itu berada di oasis suatu dataran separuh gersang.

Damaskus juga berbatasan dengan Pegunungan Anti-Lebanon di sebelah Timur. Di sebelah Tenggara, kota ini berdekatan dengan Beirut, Lebanon. Damaskus juga dilalui Sungai Barada yang telah mengalirkan air selama ribuan tahun.

Kota itu termasuk salah satu kota tertua yang dihuni manusia. Damaskus dibangun sekitar 3.000 tahun SM. Berganti zaman, berganti pula penguasa Damaskus. Secara bergantian, kerjaan Assyria, Yunani, Romawi dan Bizantium menguasai wilayah itu.

Islam mulai menginjakkan pengaruhnya di kota itu pada era kekuasaan Khalifah Umar bin Khathab. Panglima perang seperti Khalid bin Walid, Amr bin Ash, Abu Ubaidah bin Jarrah, Yazid bin Abu Sufyan berhasil menunaikan tugasnya untuk menaklukan Suriah dan Palestina dari kekuasaan Romawi.

Secara resmi, Damaskus berada dalam kekuasaan Islam pada September 635 M. Proses Islamisasi berlangsung damai dan lancar. Penguasa Islam tetap menghormati kebebasan beragama.

Sejak itulah, Suriah menjadi salah satu provinsi pemerintahan Khulafaur Rasyidin yang berpusat di Madinah. Gubernur pertama Suriah adalah Muawiyah bin Abu Sufyan. Pada era kepemimpinannya, Usman bin Affan kerap berkunjung ke provinsi itu.

Ketika konstelasi politik di dunia Islam berubah, pada tahun 661 M Muawiyah bin Abu Sufyan mendirikan Dinasti Umayyah dan mendapuk Damaskus sebagai ibukota pemerintahannya.

Salah satu agenda Dinasti Umayyah adalah perluasan wilayah penyebaran Islam hingga ke Afrika Utara, Spanyol, Asia Tengah, Persia, serta India. Sehingga wilayah kekuasaan Islam pada abad pertengahan semakin meluas. Sekitar tahun 750 M, Dinasti Umayyah digulingkan Dinasti Abbasiyah dan ibukota pemerintahan berpindah ke Baghdad.

Ketika kekuasaan Abbasiyah memudar, pada 875 M penguasa Mesir, Ahmad ibnu Tulun, mengambil alih kota itu. Pada 945 M, Dinasti Hamdanids mengambil alih Damaskus. Sekitar tahun 968 M dan 971 kota itu dikuasai Qaramita. Setelah itu, Dinasti Fatimiyyah di Kairo menguasai Damaskus. Sejak abad ke-11, Dinasti Seljuk menguasai kota itu.

Pada 1260 M bangsa Mongol menaklukkan Damaskus. Tiga abad berikutnya, Turki Usmani berkuasa di kota itu. Pada 1946 Suriah memproklamirkan kemerdekaannya. Hingga kini, Damaskus tetap menjadi ibu kotanya.


Source: republika.co.id
newer post

Kairo, Kota Beragam Peradaban

0 komentar
Kota seribu menara. Itulah julukan yang disandang Kairo—salah satu kota penting dalam sejarah peradaban Islam.

Pada abad pertengahan, Ibukota Mesir yang berada di benua Afrika itu memainkan peranan yang hampir sama pentingnya dengan Baghdad di Persia serta Cordoba di Eropa.

Kairo yang terletak di delta Sungai Nil telah didiami manusia Mesir Kuno sejak tahun 3500 SM. Mesir Kuno sempat mencapai kemakmuran di bawah penguasa Zoser, Khufu, Khafre, Menaure, Unas dan lainnya. Di masa itu, ibukota Mesir Kuno itu sudah menjadi salah satu kota yang berpengaruh di dunia.

Sejak 30 SM, Mesir dikuasai bangsa Romawi. Kekuasaan Romawi di Mesir akhirnya tumbang ketika Islam menjejakkan pengaruhnya pada tahun 641 M. Adalah pasukan di bawah komando jenderal perang Muslim, Amar bin Ash, yang pertama kali menancapkan pengaruh Islam di Mesir.

Saat itu, Amar bin Ash justru menjadikan Fustat—kini bagian Kota Kairo—sebagai pusat pemerintahannya. Di Fustat itulah, bangunan masjid pertama kali berdiri di daratan Afrika. Fustat tercatat mengalami pasang surut sebagai sebuah kota utama di Mesir selama 500 tahun.

Penjelajah dari Persia, Nasir-i-Khusron mencatat kemajuan yang dicapai Fustat. Ia melihat betapa eksotik dan indahnya barang-barang di pasar Fustat, seperti tembikar warna-warni, kristal dan begitu melimpahnya buah-buahan dan bunga, sekalipun di musim dingin.

Dari tahun 975 sampai 1075 M Fustat menjadi pusat produksi keramik dan karya seni Islami—sekaligus salah satu kota terkaya di dunia. Ketika Dinasti Umayyah digulingkan Dinasti Abbasiyah pada 750 M, pusat pemerintahan Islam di Mesir dipindahkan ke Al-Askar—basis pendukung Abbasiyah.

Kota itu bertahan menjadi ibukota pemerintahan hingga tahun 868 M. Sekitar 1168 M, Fustat dibumihanguskan agar tak dikuasai tentara Perang Salib.

Berdirinya Kairo sebagai ibukota dan pusat pemerintahan diawali gerakan penumpasan golongan Syiah yang dilancarkan penguasa Abbasiyah di Baghdad.

Kongsi yang dibangun golongan Syiah dengan Bani Abbas untuk menjatuhkan Bani Umayyah akhirnya pecah.

Penguasa Abbasiyah mencoba meredam perlawanan golongan Syiah Ismailiyah di bawah pimpinan Ubaidillah Al-Mahdi. Setelah sempat ditahan, Ubaidillah akhirnya dibaiat menjadi khalifah bergelar Al-Mahdi Amir Al-Mu'minin (909 M).

Pengganti Khalifah Ubaidilah Al-Mahdi, Muizz Lidinillah, mulai mengalihkan perhatiannya ke Mesir. Ia menunjuk Panglima Jauhar Al-Katib As-Siqili untuk menaklukan Mesir.

Tahun 969 M, Mesir berada dalam kekuasaan Syiah Ismailiyah. Sejak itu, mereka membangun kota baru yang diberi nama Al-Qahirah atau Kairo yang berarti 'penaklukan' atau 'kejayaan'. Pada 972 M, di Kairo telah berdiri Masjid Al-Azhar.

Kota Kairo tumbuh pesat setelah pada tahun 973, seiring dengan hijrahnya Khalifah Mu'izz Lidinillah dari Qairawan ke Mesir. Sejak saat itu, Kairo mencapai kejayaan sebagai pusat pemerintahan Dinasti Fatimiyah.

Dinasti itu menorehkan kegemilangan selama 200 tahun. Di masa itu, Mesir menjadi pusat kekuasaan yang mencakup Afrika Utara, Sisilia, pesisir Laut Merah Afrika, Palestina, Suriah, Yaman, dan Hijaz.

Kairo tumbuh dan berkembang sebagai pusat perdagangan luas di Laut Tengah dan Samudera Hindia. Kairo pun menggabungkan Fustat sebagai bagian dari wilayah administratifnya. Tak heran, jika Kairo tumbuh semakin pesat sebagai salah satu metropolis modern yang diperhitungkan dan berpengaruh.

Pada era itu pula, Kairo menjelma menjadi pusat intelektual dan kegiatan ilmiah baru. Bahkan, pada masa pemerintahan Abu Mansur Nizar Al-Aziz (975 M - 996 M), Kairo mampu bersaing dengan dua ibukota Dinasti Islam lainnya yakni, Baghdad di bawah Dinasti Abbasiyah dan Cordoba pusat pemerintahan Umayyah di Spanyol. Kini, Universitas Al-Azhar menjadi salah satu perguruan tinggi terkemuka yang berada di kota itu.


Source: republika.co.id
newer post

Kamis, 19 Juli 2012

Muslim Roma Siapa Mereka?

0 komentar
Mereka bukan Muslim yang bermukim di kota Roma, ibukota Italia. Roma adalah sesosok etnis minoritas di daratan Eropa yang selama ini dikenal dengan nama Gypsi. Mereka tersebar di hampir seluruh negara Eropa, Amerika, dan Asia Tengah. 
 
Jika Anda seorang Muslim Roma dan tinggal di salah satu kota di dekat Athena, ibukota Yunani, atau di kota-kota lain, jangan berharap dapat mendirikan masjid atau menunaikan shalat Jumat berjamaah. Kalau pun ingin melakukannya Anda harus menempuh jarak sekian ratus kilometer untuk sampai ke bagian barat propinsi Thrace, dekat perbatasan Yunani-Bulgaria. Hanya di tempat ini, terutama di kota kecil Xanthi, atau Xantini, Komotini, dan Dhidhimotikhon, Anda bisa melakukan kegiatan ritual Islam secara bebas. Masjid banyak berdiri di pemukiman-pemukiman, pelajaran bahasa Arab, dan pengajian Alquran menjadi bagian penting kehidupan sehari-hari.

Di tempat ini pula Muslim Roma hidup berdampingan bersama dua etnis minoritas pemeluk Islam lainnya di Yunani; Pomak dan Turki. Mereka juga 'relatif' bisa berbaur dengan kelompok minoritas non-Muslim lainnya; etnis Turki dan Roma pemeluk Kristen Orthodox, dan lainnya. Tidak ada angka pasti berapa jumlah Muslim Roma di 'kantong' mereka di sini. Hugh Poulton mengatakan jumlah Athingani, begitu orang Yunani menyebut mereka, sekitar 20 ribu. Angka resmi pemerintah Yunani menyebutkan jumlah Muslim Roma di Thrace Barat sekitar 15 persen dari 338 ribu pemeluk Islam di tempat ini.

Di luar propinsi Thrace Barat, lebih tepatnya di seluruh Yunani, jumlah etnis Roma mencapai 350 ribu atau 3 persen dari seluruh penduduk negeri yang melahirkan konsep Trinitas Kristen ini. Sebagian besar relatif bermukim secara pernamenen di kota-kota di sekitar Athena Raya, dan lainnya masih berpola hidup nomadik, atau berpindah dari satu ke lain tempat.

Secara umum mereka terbagi ke dalam dua kelompok besar. Kelompok pertama disebut Ficira atau Bacora. Mereka menjadi termarjinalisasi sebagai akibat krisis sektor pertanian yang menyebabkan mereka terbuang dari pasar tenaga kerja. Kesempatan kerja bagi kelompok ini juga menjadi berkurang setelah masuknya pekerja asing ke pasar gelap.

Kelompok kedua memiliki banyak nama; Filipijie, Handura, Kalpazaj, atau Rumelie. Dibanding kelompok pertama, komunitas kedua ini berbicara bahasa Yunani dan Romani. Mereka relatif mapan secara ekonomi, dan sukses di sektor perdagangan. Serta, ini yang lebih penting, rata-rata memiliki pendidikan cukup baik.
Tanpa harus memisahkan mereka menjadi dua kelompok, orang Roma telah ada di Yunani sejak sekian ratus tahun lampau. Selama itu pula mereka, bersama etnis minoritas lainnya, mengalami berbagai bentuk pelecehan dan diskriminasi. Mereka tidak memiliki akses untuk mendapatkan pendidikan, kesehatan, pemukiman, dan menjalankan ibadah sesuai agama yang mereka anut.

Berbeda dengan etnis Turki, orang-orang Roma tidak memiliki 'negara induk'. Perlakukan buruk sekecil apa pun terhadap etnis Turki di Thrace Barat akan menimbulkan kemarahan pemerintah Istambul. Namun, negara mana yang mau peduli ketika orang-orang Roma yang bermukim di kota-kota kecil di Yunani diperlakukan tidak manusiawi, dan hak-hak mereka dirampas.

Tahun 1923, usai perang Turki-Yunani 1920-22, banyak orang-orang Roma di Thrace Barat mengidentifikasi diri sebagai orang Turki. Cara ini dilakukan karena Perjanjian Laussane 1923 -- yang mengakhiri perang kedua negara -- mengakui eksistensi minoritas Muslim di Thrace Barat dan menjamin hak-haknya.
Tidak mudah bagi orang-orang Roma melakukan semua itu. Pemerintah Yunani hanya mengakui minoritas Muslim di Thrace adalah etnis Turki, bukan Roma atau lainnya. Akibatnya, upaya orang-orang Roma mengidentifikasi diri mereka sebagai entis Turki gagal total.
Selama sekian puluh tahun mereka menjadi sesosok etnis tanpa negara, tanpa hak memperoleh pendidikan, kesehatan, dan melakukan kegiatan ritualnya dengan bebas. Di Komotini, sejumlah etnis Roma yang telah berasimilasi dengan etnis Turki gagal memperoleh status kewarganegaraan. Bahkan, pemerintah Yunani berupaya mengeluarkan orang-orang Roma dari komunitas Turki.
Perubahan baru tejadi tahun 1970, ketika pemerintah Yunani mengumumkan Muslim dan Kristen Roma yang orangtuanya lahir di Yunani berhak mendapatkan status kewarganegaraan Yunani. Tapi, tidak banyak dari mereka yang bisa membuktikan bahwa orang tua mereka lahir di Yunani. Tidak heran jika orang-orang Ficira atau Bacora tidak memiliki kartu identitas kewarganegaraan.
Ini pula yang menyebabkan mereka sulit memperoleh jaminan pendidikan, kesehatan, dan perumahan, atau apa pun yang mereka harus dapatkan sebagai warga negara Yunani. Kalau pun mereka memiliki sekeping tanah di pinggir kota, jangan berharap memperoleh izin pembangunan rumah. Mereka juga tidak akan berpikir memperoleh lisensi mengendari mobil sebagai bekal menjadi sopir.
Greek Helsinki Monitor (GHM) dan European Center for Roma Right memiliki laporan menarik mengenai semua ini. Sepanjang tahun 1997, misalnya, sejumlah pemerintahan lokal -- propinsi atau kotamadya -- sepakat mengusir orang-orang Roma dari daerah jurisdiksi mereka. Ancaman ini berlanjut sampai tahun berikutnya. Pertengahan 1998, sebanyak 3500 etnis Roma -- kebanyakan Muslim -- diusir dari Evosmos, dekat Salonica.
Pemerintah Yunani segera bertindak dengan menyediakan tempat bekas di kamp latihan militer untuk menampung mereka. Namun, empat wali kota berupaya mencegah mereka bermukim di situ.
Sekian lama mereka terkatung-katung. Hidup di bawah tenda-tenda tanpa fasilitas apa pun. Pejabat pemeritahan kota yang dekat penampungan sementara mereka selalu mencegah masuknya kontraktor sarana umum. Mereka juga ditolak di tiga tempat lainnya. Sampai akhirnya mereka terdampar di pinggir sungai. Pengusiran juga terjadi di sejumlah kota dan desa-desa, meski mereka telah tinggal 40 sampai 50 tahun lalu.
Semua dilakukan secara sistematis; lewat isu yang mengaitkan setiap peristiwa kejahatan apa pun dengan etnis Roma. Atau, dengan identifikasi-identifikasi buruk lainnya. Laporan juga menyebutkan sangat sedikit jumlah anak-anak Roma yang bersekolah. Sofia Nikolaidou dari GHM mencatat penyebab utamanya adalah rasisme. Banyak anak-anak Roma yang mengikuti pelajaran di sekolah Yunani mengatakan mereka tidak tahan dicemooh dengan kata-kata fuck your Turkey, atau go away, your are turks.
Pada saat pelajaran agama Kristen Orthodox, anak-anak Muslim Roma dilarang keluar. Mereka dipaksa mengikuti pelajaran sampai selesai. Atau mereka harus menghadiri misa pagi sebelum sekolah dimulai. Rasisme juga semakin nyata di beberapa desa lainnya di dekat Thrace Barat. Komunitas non-Muslim lebih suka mengeluarkan anak-anak mereka dari sekolah yang banyak anak-anak Muslim Roma. Akibatnya terjadi eksklusivitas di antara mereka.
Persoalan juga terjadi di sekolah-sekolah yang menampung anak-anak Muslim Roma. Di salah satu desa di dekat Xanthi, misalnya, jumlah anak yang terdaftar 240 orang. Namun, pada saat sekolah dimulai hanya 170 orang saja yang datang. Jumlah ini menyusut menjadi 120 orang saja pada Maret sampai April, karena anak-anak itu harus membantu orang tuanya yang sibuk panen asparagus.

Di sejumlah kota dan desa, banyak komunitas kecil Muslim Roma gagal mengatasi keadaan ini. Laporan GHM menyebutkan beberapa jumlah kecil keluarga Roma mengaku pindah agama untuk mendapatkan kesempatan hidup yang layak. Namun, kata laporan itu, mereka tetaplah Roma yang tidak pernah diakui oleh lingkungan mereka.

Tidak hanya rasisme yang harus mereka hadapi. Intervensi pemerintah terhadap pemilihan mufti -- pemimpin komunitas Islam di satu kota -- kerap kali terjadi. Selain itu, pemerintah juga mengenakan pajak pada tanah-tanah wakaf. Jika sampai beberapa tahun tidak membayar pajak, tanah wakaf akan disita. Intervensi pemilihan mufti menyebabkan terpecahnya komunitas Muslim di dan di luar Thrace Barat. Sedangkan pengenaan pajak terhadap tanah-tanah wakaf mengakibatkan lemahnya kemampuan finansial mereka. Catatan nasib buruk ini mungkin terlalu sedikit dibanding apa yang mereka alami sehari-hari, atau dibanding yang dicatat sejumlah LSM di Eropa. (RL)


Source: republika.co.id
newer post

Penemuan Kacamata di Dunia Islam

0 komentar
Kacamata merupakan salah satu penemuan terpenting dalam sejarah kehidupan umat manusia. Setiap peradaban mengklaim sebagai penemu kacamata. Akibatnya, asal-usul kacamata pun cenderung tak jelas dari mana dan kapan ditemukan. Lutfallah Gari, seorang peneliti  sejarah sains dan teknologi Islam dari Arab Saudi mencoba menelusuri rahasia penemuan kacamata secara mendalam.

Lutfallah mencoba membedah sejumlah sumber asli dan meneliti literatur tambahan. Investigasi yang dilakukannya itu membuahkan sebuah titik terang. Ia menemukan fakta bahwa peradaban Muslim di era keemasan memiliki peran penting dalam menemukan alat bantu baca dan lihat itu.

Lewat tulisannya bertajuk The Invention of Spectacles between the East and the West, Lutfallah mengungkapkan, peradaban Barat  kerap mengklaim sebegai penemu kacamata. Padahal, jauh sebelum masyarakat Barat mengenal kacamata, peradaban Islam telah menemukannya. Menurut dia, dunia Barat  telah membuat sejarah penemuan kacamata yang kenyataannya hanyalah sebuah mitos dan kebohongan belaka.

''Mereka sengaja membuat sejarah bahwa kacamata itu muncul saat Etnosentrisme,'' papar Lutfallah. Menurut dia,  sebelum peradaban manusia mengenal kacamata, para ilmuwan tdari berbagai peradaban telah menemukan lensa.  Hal itu dibuktikan dengan ditemukannya kaca.

Lensa juga dikenal pada beberapa peradaban seperti Romawi, Yunani, Hellenistik dan Islam. Berdasarkan bukti yang ada, lensa-lensa pada saat itu tidak digunakan untuk magnification (perbesaran), tapi untuk pembakaran. Caranya dengan memusatkan cahaya matahari pada fokus lensa/titik api lensa.

Oleh karena itu, mereka menyebutnya dengan nama umum "pembakaran kaca/burning mirrors". ''Hal ini juga tercantum dalam beberapa literatur yang dikarang  sarjana Muslim pada era peradaban Islam,'' tutur Lutfallah. Menurut dia,  fisikawan Muslim legendaris, Ibnu al-Haitham (965 M-1039 M), dalam karyanya bertajuk Kitab al-Manazir (tentang optik) telah mempelajarai masalah perbesaran benda dan pembiasan cahaya.

Ibnu al-Haitam mempelajari pembiasan cahaya melewati sebuah permukaan tanpa warna seperti kaca, udara dan air. "Bentuk-bentuk benda yang terlihat tampak menyimpang ketika terus melihat benda tanpa warna". Ini merupakan bentuk permukaan seharusnya benda tanpa warna," tutur al-Haitham seperti dikutip Lutfallah.

Inilah salah satu fakta yang menunjukkan betapa ilmuwan Muslim Arab pada abadke-11 itu telah mengenali kekayaan perbesaran gambar melalui permukaan tanpa warna. Namun,  al-Haitham belum mengetahui  aplikasi yang penting dalam fenomena ini. Buah pikir yang dicetuskan Ibnu al-Haitham itu merupakan hal yang paling pertama dalam bidang lensa.

Paling tidak, peradaban Islam telah mengenal dan menemukan lensa lebih awal tiga ratus tahun dibandingkan Masyarakat Eropa. Menurut Lutfallah, penemuan kacamata dalam peradaban Islam terungkap dalam puisi-puisi karya  Ibnu al-Hamdis (1055 M- 1133 M). Dia menulis sebuah syair yang menggambarkan tentang kacamata. Syair itu ditulis  sekitar200 tahun,  sebelum masyarakat Barat menemukan kacamata. Ibnu al-Hamdis menggambarkan kacamata lewat syairnya antara lain sebagai berikut:

''Benda bening menunjukkan tulisan dalam sebuah buku untuk mata, benda bening seperti air, tapi benda ini merupakan batu. Benda itu meninggalkan bekas kebasahan di pipi, basah seperti sebuah gambar sungai yang terbentuk dari keringatnya,'' tutur al-Hamdis.

Al-Hamdis melanjutkan, ''Ini seperti seorang yang manusia yang pintar, yang menerjemahkan sebuah sandi-sandi kamera yang sulit diterjemahkan. Ini juga sebuah pengobatan yang baik bagi orang tua yang lemah penglihatannya, dan orang tua menulis kecil dalam mata mereka.''

Syair al-Hamids itu telah mematahkan klaim peradaban Barat sebagai penemu kacamata pertama.  Pada puisi ketiga, penyair Muslim legendaris itu mengatakan, "Benda ini tembus cahaya (kaca) untuk mata dan menunjukkan tulisan dalam buku, tapi ini batang tubuhnya terbuat dari batu (rock)".

Selanjutnya dalam dua puisi, al-Hamids menyebutkan bahwa kacamata merupakan alat  pengobatan yang terbaik bagi orang tua yang menderita cacat/memiliki penglihatan yang lemah. Dengan menggunakan kacamata, papar al-Hamdis, seseorang akan melihat garis pembesaran.

Dalam puisi keempatnya, al-Hamdis mencoba menjelaskan dan menggambarkan kacamata sebagai berikut: "Ini akan meninggalkan tanda di pipi, seperti sebuah sungai". Menurut penelitian Lutfallah, penggunaan kacamata mulai meluas di dunia Islam pada abad ke-13 M. Fakta itu terungkap dalam lukisan, buku sejarah, kaligrafi dan syair.

Dalam salah satu syairnya, Ahmad al-Attar al-Masri telah menyebutkan kacamata. "Usia tua datang setelah muda, saya pernah mempunyai penglihatan yang kuat, dan sekarang mata saya terbuat dari kaca." Sementara itu, sejarawan al-Sakhawi, mengungkapkan,  tentang seorang kaligrafer Sharaf Ibnu Amir al-Mardini (wafat tahun 1447 M). "Dia meninggal pada usia melewati 100 tahun; dia pernah memiliki pikiran sehat dan dia melanjutkan menulis tanpa cermin/kaca. "Sebuah cermin disini rupanya seperti lensa,'' papar al-Sakhawi.

Fakta lain yang mampu membuktikan bahwa peradaban Islam telah lebih dulu menemukan kacamata adalah pencapaian dokter Muslim dalam ophtalmologi, ilmu tentang mata.   Dalam karyanya tentang ophtalmologi, Julius Hirschberg , menyebutkan, dokter spesialis mata Muslim tak menyebutkan kacamata.  ''Namun itu tak berarti bahwa peradaban Islam tak mengenal kacamata,'' tegas Lutfallah.

Pada abad ke-13 M, sarjana Inggris, Roger Bacon (1214 M - 1294 M), menulis tentang kaca pembesar dan menjelaskan bagaimana membesarkan benda menggunakan sepotong kaca. "Untuk alasan ini, alat-alat ini sangat bermanfaat untuk orang-orang tua dan orang-orang yang memiliki kelamahan pada penglihatan, alat ini disediakan untuk mereka agar bisa melihat benda yang kecil, jika itu cukup diperbesar," jelas Roger Bacon.

Beberapa sejarawan ilmu pengetahuan menyebutkan Bacon telah mengadopsi ilmu pengetahuannya dari ilmuwan Muslim, Ibnu al-Haitam. Bacon terpengaruh dengan kitab yang ditulis  al-Haitham berjudul Kitab al-Manazir (Kitab tentang Optik). Kitab karya al-Haitham itu ternyata telah  diterjemahkan ke dalam bahasa Latin.

Ide pembesaran dengan bentuk kaca telah dicetuskan jauh sebelumnya oleh al-Haitham. Namun, sayangnya dari beberapa bukti yang ada, penggunaan kaca pembesar untuk membaca pertama disebutkan dalam bukunya Bacon.

Julius Hirschberg, sejarawan ophthalmologi (ilmu pengobatan mata), menyebutkan dalam bukunya, bahwa perbesaran batu diawali dengan penemuan kaca pembesar dan barulah kacamata tahun 1300 atau abad ke-13 M. "Ibnu al-Haitham hanya melakukan penelitian mengenai pembesaran pada abad ke-11 M," cetusnya Hirschberg.

Kacamata pertama disebutkan dalam buku pengobatan di Eropa pada abad ke-14 M. Bernard Gordon, profesor pengobatan di Universitas Montpellier di selatan Prancis, mengatakan di tahun 1305 M tentang tetes mata (obat mata) sebagai alternatif bagi orang-orang tua yang tidak menggunakan kacamata.

Tahun 1353 M, Guy de Chauliac menyebutkan jenis obat mata lain untuk menyembuhkan mata, dia mengatakan lebih baik menggunakan kacamata jika obat mata tidak berfungsi.

Selain para ilmuwan di atas, adapula tiga cerita yang berbeda disebutkan oleh sarjana Italia, Redi (wafat tahun 1697). Cerita pertama, disebutkan dalam manuskrip Redi tahun 1299 M. Disebutkan dalam pembukaan bahwa pengarang adalah orang yang sudah tua dan tidak bisa membaca tanpa kacamata, yang ditemukan pada zamannya.

Cerita kedua, juga diceritakan oleh Redi, menunjukkan bahwa kacamata disebutkan dalam sebuah pidato yang jelas tahun 1305 M, dimana pembicara mengatakan bahwa peralatan ini ditemukan tidak lebih cepat dari 20 tahun sebelum pidato tersebut diungkapkan.

Cerita ketiga, menyebutkan bahwa biarawan (the monk) Alexander dari Spina (sebelah timur Itali) belajar bagaimana menggunakan kacamata. Dia wafat tahun 1313 M.

Akhirnya tiga versi cerita berbeda tersebut menyebarluas, karena banyak buku lain yang mengadopsi cerita-cerita yang disebutkan Redi setelah dia wafat. Namun, beberapa sejarahwan ilmu pengetahuan mengatakan bahwa Redi telah membuat cerita bohong dan mereka tidak percaya.

Bahkan, dalam buku Julius Hirschberg, juga disebutkan tentang cerita Redi itu, ditulis antara tahun 1899 dan 1918 di Jerman dan banyak informasi yang sudah tua dan banyak yang diperbaharui. Buku tersebut kemudian diterjemahkan (tanpa revisi) ke dalam bahasa Inggris dan dipublikasikan tahun 1985. Hasilnya, cerita Redi menyebar di Inggris, artikel penelitian itu ditolak kebenaran ceritanya dan ini ditolak Julius Hirschberg.

Beberapa cerita bohong lain juga ditulis oleh seorang jurnalis di pertengahan abad ke 19 M. Dia mengklaim Roger Bacon merupakan penemu kacamata seperti. Bahkan ia juga menyebutkan bahwa biarawan (the Monk) Alexander juga telah diajarkan Roger Bacon bagaimana menggunakan kacamata. Kabar ini tentu saja dengan cepat menyebar.

Kebohongan lain juga terlihat pada sebuah nisan. Seorang pengarang menunjukkan bahwa sebuah nisan di kuburan Nasrani yang berada di gereja, tertulis sebuah kalimat, "disini beristirahat Florence, penemu kacamata, Tuhan mengampuni dosanya, tahun 1317". Masih banyak cerita atau mitos lainnya tentang penemu dan pembuatan kacamata di Eropa. Semua mengklaim sebagai penemu pertama alat bantu baca dan melihat itu. (RL)


Source: repulika.co.id
newer post
newer post older post Home